Pamuk Sang Politikus

Kurniawan
http://www.ruangbaca.com/

Dia berkutat di meja tulis selama 10 jam sehari untuk mengarang.
Pada akhirnya Orhan Pamuk adalah politikus, atau “sarjana politis” sebagaimana diistilahkan Margaret Atwood.

Pada mulanya lelaki kelahiran Istanbul, Turki, pada 7 Juni 1952 itu dipaksa belajar arsitektur di Universitas Teknik Istanbul karena keluarganya ingin dia menjadi insinyur atau arsitek. Continue reading “Pamuk Sang Politikus”

Orhan Pamuk Meraih Penghargaan Nobel Sastra

Aa Sudirman
http://www.suarapembaruan.com/

“Cukup. Saya tidak suka kuliah arsitektur. Menghabiskan waktu saja. Saya mau jadi penulis.” Mungkin kalimat itu yang diucapkan Orhan Pamuk saat memutuskan untuk berhenti kuliah di Universitas Teknik Istanbul, Turki. Belakangan ia kuliah lagi di Institut Jurnalistik, Universitas Istanbul. Tapi ia tidak pernah sungguh-sungguh menjadi jurnalis.

Orhan kecil lebih suka membaca karya Virginia Wolf dan menulis di rumahnya. Keberaniannya untuk memutuskan berhenti kuliah arsitek itu mungkin salah satu pendorongnya untuk menjadi penulis. Tentu saja bakat menulisnya adalah faktor utama yang mengantarnya pada posisi terhormat sebagai penulis tingkat dunia. Continue reading “Orhan Pamuk Meraih Penghargaan Nobel Sastra”

MASIH SEPUTAR PENJURIAN YANG MISTERIUS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sebuah amplop cukup besar, saya terima, 7 Januari 2002. Isinya, satu plakat agak mewah dan selembar surat. Ternyata, pengirimnya Panitia Panyelenggara Khatulistwa Literary Award (KLA) Indonesia?s Best Fiction Award 2000?2001. Plakat dimaksudkan sebagai simbol pernyataan keberterimaan dan barangkali juga penghargaan dari Panitia Panyelenggara, sedangkan surat dapatlah dianggap sebagai utusan panitia itu yang hendak menyampaikan ucapan terima kasih kepada juri. Continue reading “MASIH SEPUTAR PENJURIAN YANG MISTERIUS”

Herta dan Nobel Sastra

Asep Dudinov Ar
http://sosbud.kompasiana.com/

Tujuh hari tak posting tulisan membuat saya tak enak hati dan teu ngareunah awak dengan Kompasiana. Mubadzir rasanya jika saya menyia nyiakan ?lapak? yang telah disediakan dengan gratis. Daripada kosong tak posting tulisan selama seminggu, saya cuplik kembali esai yang kebetulan termuat di salah satu surat kabar. Termuat mungkin hanya keberuntungan semata atau mungkin kasihan dengan saya yang sudah berkali kali kirim namun tak jua dimuat, daripada pundung, dimuatlah sekali ini saja. Sudah agak lama sebetulnya, tapi tak apalah. Nu saguru saelmu tong ngaganggu, mudah mudahan menjadi kebaikan kita bersama. Continue reading “Herta dan Nobel Sastra”

Peluang Meraih Nobel Sastra Pasca-Pram

Sides Sudyarto DS
http://www.infoanda.com/Republika

Novelis Pramudya Ananta Toer telah berlalu, meninggalkan kita untuk selamanya. Pram adalah satu-satunya pengarang kita yang pernah mendapatkan kesempatan menduduki nominasi untuk hadiah Nobel sastra. Konon panitia Nobel tidak punya tradisi memberikan penghargaan paling bergengsi itu kepada pengarang yang sudah meninggal dunia. Maka demikianlah, pupus sudah kemungkinan akan turunnya hadiah Nobel buat sastrawan Indonesia. Entah kapan lagi ada nominasi Nobel buat sastrawan kita. Sayangnya, setelah Pram berlalu, nominasi (saja pun) tampaknya tak akan terjadi lagi. Continue reading “Peluang Meraih Nobel Sastra Pasca-Pram”