Tag Archives: Fahrudin Nasrulloh

Tiga Cerpenis Jawa Timur

Beni Setia
horisononline.or.id

YANG dimaksudkan dengan tiga cerpenis Jawa Timur dalam tulisan ini adalah: Fahrudin Nasrulloh, yang termanifestasikan dengan kumpulan cerpen, Syekh Bajirun dan Rajah Anjing, (Pustaka Pujangga, Lamongan Februari 2011); dan Mardi Luhung dengan kumpulan cerpen, Saya Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (komodo books, Depok Februari 2011); serta R. Giryadi dengan kumpulan cerpennya, Dongeng Negeri Lumut (Satukata, Sidoarjo Januari 2011). Dua bulan di awal 2011, tiga kumpulan cerpen dari tiga cerpenis yang mempunyai latar belakang berbeda, dan bagaimana perbedaan latar belakang itu menentukan corak ekspresi ber-“cerpen” mereka.

SAYA TERSESAT DI CERPEN-CERPEN FAHRUDIN?

Ulasan Kumcer Syekh Bejirun dan Rajah Anjing karya Fahrudin Nasrulloh
Penerbit Pustaka Pujangga tahun 2011
Yuditeha
yuditeha.wordpress.com

Jujur, terus terang, terkadang saya merasa tidak kuat untuk sekedar menyelesaikan membaca sebuah cerpen sampai ke ending, tetapi saya mempunyai komitmen, adalah sebuah kewajiban untuk mengakhiri apa yang telah saya mulai, termasuk membaca sebuah cerpen. Dan saya telah mengakhiri membaca Syekh Bejirum dan Rajah Anjing.

KABAR DUKA

Ahmad Farid Tuasikal *
Radar Mojokerto, 2 Juni 2013

Teruntuk sahabatku Fahrudin Nasrulloh yang telah kembali kepangkuan Alloh SWT pada hari kamis, tanggal 30 Mei 2013

Hujan telah redah. Namun kilat yang menyambar-nyambar di sela gerimis tipis-tipis seakan langit telah resah. Kilat yang menyala ketika senja menyentuh bibir langit magrib kian menggariskan kilatan-kilatan cahaya yang penuh akan pertanda. Entah pertanda akan ada bencana atau pertanda suatu duka.

FAHRUDIN MENOLAK TUNDUK PADA MAUT

Dwi Cipta

Seseorang tak bisa menolak maut saat ia sudah datang dan mengajaknya meninggalkan dunia ini. Namun seseorang bisa melawan paksaan maut saat ia baru mengirim pesan bahwa dirinya akan datang. Beberapa orang di antaranya berhasil. Beberapa yang lainnya gagal. Berhasil atau pun gagal, sepanjang manusia telah melakukan perlawanan sepenuh hati terhadap pesan yang dikirimkan oleh Sang Maut,

“Sastra Kampus” dan Tantangannya *

Fahrudin Nasrulloh **
__Radar Mojokerto, 15 Jan 2012

Segala sesuatu mencari segala sesuatu
Tanpa tujuan tanpa akhir tanpa henti
(Victor Hugo)

Masa sekarang dunia sastra selalu bisa lahir dan diapresiasi oleh kalangan manapun. Hal ini menunjukkan perkembangan demokratisasi sastra yang semakin tidak terbatas.

9 Pencerita yang Dibunuh Ceritanya Sendiri

Fahrudin Nasrulloh *
__Radar Mojokerto, 18 Des 2011

Mojokerto mulai bergerak lagi. Mojokerto coba diongkosi lagi. Oleh mereka-mereka yang masih bersetia menulis, dan satu-dua-tiga yang baru muncul belakangan. Sastra tampaknya tak pernah mati dari kondisi apa pun yang bahkan telah banyak mencekik para pelakunya untuk lebih jauh mengarus dalam dunianya yang semakin tak jelas. Tak jelas dalam arti bahwa rambahan estetika di dalamnya adalah pertarungan yang tiada habis dalam upaya bereksplorasi.