Sajak di Kampung dan Kafe-kafe

Tulus Wijanarko, Olivia Kristina Sinaga, Syaiful Amin, Faidil Akbar
majalah.tempointeraktif.com

SUATU hari pada tahun 2000. Di sebuah warung Internet di Depok, Gratiagusti Chananya Rompas duduk mencangkung di depan komputer. Tangannya memencet-mencet papan tombol, mengisi kolom-kolom pada tampil-an Yahoogroups. Anya, begitu ia biasa dipanggil, be-lum lama kenal Internet. Tetapi ia tahu, di ranah maya ini bisa terbentuk ruang diskusi. Ia memilih Bunga Matahari sebagai nama milis. Continue reading “Sajak di Kampung dan Kafe-kafe”

Mengapa Komik Jepang Bisa Mendunia?

Faidil Akbar
suarakarya-online.com

Mengapa komik Jepang alias manga (baca: mang’nga) menyedot penggemar sampai ke seluruh dunia, hingga Eropa yang memiliki legenda komik: Tintin sang wartawan dan prajurit Galia Asterix? Bahkan gaya dan budaya manga ditiru remaja-remaja mereka.

Di negeri asalnya sendiri, manga dikonsumsi oleh anak-anak sampai orang tua. Terdapat banyak ragam (genre) komik yang beredar, untuk anak-anak (kodomo), remaja putra (shounen), remaja putri (shoujo), dewasa pria (seinen), dewasa wanita (josei), bahkan ada genre yang diterbitkan untuk memenuhi fantasi seksual (yaoi/yuri/hentai). Continue reading “Mengapa Komik Jepang Bisa Mendunia?”

Putu Wijaya, Sejak Remaja Sudah Menggemari Sastra

Faidil Akbar
suarakarya-online.com

Putu Wijaya yang kita kenal sebagai sastrawan mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa ia berasal dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.

Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama di Bali, ia mulai menulis cerita pendek dan beberapa di antaranya dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Continue reading “Putu Wijaya, Sejak Remaja Sudah Menggemari Sastra”

Pak Tua

Faidil Akbar
http://www.suarakarya-online.com/

Pak Tua sedang berbaring di kursi bambu yang dibuatnya sendiri beberapa pekan lalu. Kepalanya terangkat sesuai dengan bentuk kursi. Di depannya ada sebuah televisi kesayangannya sekaligus musuhnya. Ia sayang kepada televisinya kalau muncul acara-acara kegemarannya seperti pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan tangan dan pertukangan, apalagi kerajinan atau pertukangan bambu. Selain itu ia sangat tertarik pada penayangan wild life, tentang binatang-binatang liar di hutan Afrika, di pegunungan salju dan di padang-padang pasir tanpa air. Continue reading “Pak Tua”