Catatan Di Meja Nusa Dua & Café Bandar: MEMPERJUANGKAN PUISI (I – 7)

Dr. JJ Kusni
http://gendhotwukir.multiply.com/

1.

Kali ini, aku mengajakmu memperhatikan dan membicarakan puisi-puisi Gendhotwukir yang sekarang sedang belajar di Jerman, dan agaknya mendalami ilmu filsafat. Gendhotwukir adalah nama pena , bukan nama benar. Nama pena bagi seorang penyair apalagi yang sedang mendalami ilmu filsafat [kalau dugaanku benar], tentu mempunyai makna tersendiri yang sampai sekarang belum kuketahui. Continue reading “Catatan Di Meja Nusa Dua & Café Bandar: MEMPERJUANGKAN PUISI (I – 7)”

Oase, Menjaga Puitisitas Puisi

Gendhotwukir *
KOMPAS, 9 Apr 2010.

Puisi bukan hanya milik penyair. Cerpenis dan novelis pun kini mendalami dan mengeksplorasi diksi secara serius. Artis, pengusaha dan penulis prosa tak ingin ketinggalan dan terkesan ramai-ramai ingin menjadi penyair pula. Dunia industri yang kian pesat seiring arus globalisasi pun menunjukkan kecenderungan yang sama dan tidak mau ketinggalan seperti jelas terungkap dalam iklan yang kian padat dan menukik. Kata-kata dan kalimat dalam iklan kalau sungguh kita amati sering mencapai kadar kata-kata yang estetis. Tak terhitung jumlahnya kalimat iklan yang menunjukkan kadar kata-katanya puitis dan benar-benar diolah dengan rasa bahasa. Continue reading “Oase, Menjaga Puitisitas Puisi”

Kritik Sosial “Mencari Jejak Gunung”

Gendhotwukir *
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Festival Lima Gunung (FLG) VII baru saja digelar beberapa waktu lalu di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Magelang, dengan mengusung tema “Mencari Jejak Gunung”.

Festival Lima Gunung yang setiap tahunnya menghadirkan berbagai seniman dusun Kabupaten Magelang, tokoh nasional, maupun komunitas dari luar kota, merupakan ajang untuk saling bertemu, serta belajar memahami kondisi masyarakat kita yang pluralistik dalam proses budayanya yang tidak berhenti sebagai kata benda. Continue reading “Kritik Sosial “Mencari Jejak Gunung””

Sastra Kini dan Esok

Gendhotwukir*
http://oase.kompas.com/

Sastra hari ini sepertinya sedang merayakan kemerdekaannya. Teks sastra entah dalam bentuk puisi, cerpen ataupun esai kini menemukan sebuah ruang publikasi baru yang cepat dan tidak perlu menunggu waktu berhari-hari karena sikap ketat redaktur sastra media cetak mengingat terbatasnya halaman untuk rubrik tersebut. Sastra cyber kian ramai seiring menjamurnya jejaring sosial di internet seperti milis, friendster, twitter, blogger, multiply dan akhir-akhir ini yang sedang booming yaitu facebook. Continue reading “Sastra Kini dan Esok”