Posisi Kesenian Modern Indonesia

Gunoto Saparie
Pikiran Rakyat, 27 Jul 1995

Setelah merdeka selama 50 tahun, di manakah posisi kesenian modern Indonesia? Para seniman Indonesia modern agaknya harus mengakui, bahwa posisi kesenian modern kita tetap bagaikan berada di menara gading. Seni modern kita adalah seni minoritas, elite, yang terasing dari masyarakat. Kesenian kita, seperti pernah dikatakan Emha Ainun Nadjib, adalah gerak yang meyakini sikap tanpa pamrih. Artinya, berkesinan tanpa tujuan apa-apa, kecuali untuk kebahagian individual. Tujuan kulturasi dianggap sebagai pretensi moral yang muluk. Kesenian kita adalah satu bidang kehidupan yang menelan bermiliar rupiah tetapi dengan ekslusivisme nilai-nilai. Baca selengkapnya “Posisi Kesenian Modern Indonesia”

Indonesia Paceklik Kritik Sastra

Gunoto Saparie *
Koranmuria.com 25 Okt 2016

Perkembangan sastra Indonesia hari-hari ini sangat pesat. Orang sulit menghitung jumlah karya sastra yang terbit saat ini. Para penulis sastra bermunculan dari berbagai daerah bahkan bisa dikatakan setiap daerah mempunyai puluhan penulis sastra atau pun ratusan. Di koran dan majalah para sastrawan muda bermunculan. Komunitas-komunitas sastra bertebaran. Akan tetapi, perkembangan yang menggembirakan itu berjalan tanpa kritik sastra. Sastra Indonesia hari-hari ini boleh dibilang krisis atau paceklik kritikus. Baca selengkapnya “Indonesia Paceklik Kritik Sastra”

Semangat Profetik Sastrawan Kita Memudar?

Gunoto Saparie *
murianews.com

Sastra sufistik adalah ragam karya sastra yang mendapat pengaruh kuat dari sastra sufi atau sastra tasawuf, termasuk sistem pencitraan, penggunaan lambang, dan metafora. Sastra sufistik dapat juga disebut sastra transendental karena pengalaman yang dipaparkan penulisnya ialah pengalaman transendental, seperti ekstase, kerinduan, dan persatuan mistikal dengan yang transenden. Pengalaman itu berada di atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis (transenden, sekaligus imanen). Baca selengkapnya “Semangat Profetik Sastrawan Kita Memudar?”