Tag Archives: Hardi Hamzah

Mencegah Disintegrasi dengan Strategi Kebudayaan

Hardi Hamzah*
Lampung Post, 13 Juni 20007

APA yang dikemukakan oleh Dr. Soedjatmoko (1986) tentang pembangunan dan pembebasan bagi sosok manusia, sesungguhnya mengandung makna kebudayaan.

Pembangunan, ujar Soedjatmoko, sangat erat kaitannya dengan proses perubahan manusia dalam dimensi kebudayaan. Sementara pembebasan dalam konteks kemanusiaan dilihat Bung Koko sebagai pisau analisis untuk suatu interaksi dalam konteks akulturasi budaya.

Transformasi Sosial dan Diplomasi Kebudayaan

Hardi Hamzah*
Lampung Post, 23 Sep2007

FRANS Magnis Suseno menolak Ahmad Bakrie Award baru-baru ini. Ia membuat analisis soal sosok karbitan yang muncul di antara transformasi sosial dan diplomasi kebudayaan.

Ia mengatakan, transformasi sosial dan diplomasi kebudayaan di Indonesia, sesungguhnya masih sangat lemah. Dan kelemahan itu menghadirkan implikasi yang bervariasi.

Atmosfer ‘Mak Dawah Mak Dibingi’ dalam Transformasi Kebudayaan Global

Hardi Hamzah
Lampung Post, 10 Mei 2009

BUKU puisi Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi, sesungguhnya telah meletakkan pilar budaya daerah dalam bentuk sastra.

Pakem-pakem kesusastraan yang diselimuti secara naratif tentu banyak terdapat dalam buku ini. Namun, penulis tidak berniat meresensi buku ini dalam pengertian yang konstan. Sebab, telah banyak proyeksi universal tentang buku ini melalui resensi.

Agama di Era Perubahan Zaman

Hardi Hamzah
http://www.lampungpost.com/

Dalam bukunya World Culture and World Relegion, The Coming Dialogue, Hendrik Kraemer (1982), menuturkan bahwa semua agama di zaman kita sedang mengalami suatu krisis yang amat dalam. Setiap orang di zaman ini, ujar Kraemer, terutama yang melihat dan mengamat amati kehidupan serta perkembangan agama dengan bermacam-macam alirannya, selalu mengalami kesangsian dan pertentangan di antara pengikut-pengikutnya sehingga mereka tidak pernah jujur “kata hatinya”. Agama, kata para teolog modern, setidaknya adalah variabel kontrol.

Sastra Kalbu

Hardi Hamzah
http://www.lampungpost.com/

Apresiasi terhadap dunia sastra sudah sangat ramai. Ada refleksi eksistensi humaniora eksklusif, contradictory letrateru, dan berbagai aspek lainnya yang ingin mengenalkan kesusasteraan umumnya sastra kontemporer pada khususnya.

Bicara tentang kesusastraan dan interaksinya dengan dunia luar begitu inheren (baca: senyawa), dalam arti sastra ingin “kawin” atau “kumpul kerbau”.