Yeats

Hasif Amini
Kompas, 19 Feb 2006

Mitologi adalah satu sumber ilham terbesar puisi, dan puisi modern bukanlah perkecualian. Memang, tak sedikit penyair modern yang menganggap masa silam sebagai semacam kungkung dan karena itu berusaha lepas darinya. Tetapi tak kurang pula jumlah mereka yang mencoba menggali peninggalan lama dan menampilkannya kembali dalam wujud baru. William Butler Yeats (1865-1939) adalah salah satu tokoh utamanya. Continue reading “Yeats”

Mandelstam

Hasif Amini
Kompas, 02 Juli 2006

PENYAIR mati meninggalkan puisi. Tetapi akhir hayat Osip Mandelstam adalah juga semacam puisi, yang niscaya tak pernah diduga atau diangankan oleh si penyair sendiri: muram, berat, berlarat-larat. Ia mengawali kepenyairannya dengan sajak-sajak pendek yang merdu dan berwarna-warni, rangkaian imaji dari seorang pemuda yang terpesona oleh kisah-kisah dan perjalanan jauh: Romawi, Byzantium, Mesir, Yunani…. Continue reading “Mandelstam”

Tu Fu

Hasif Amini
Kompas, 12 Feb 2006

TAK ada lukisan wajahnya yang berasal dari masa hidupnya. Dibanding Li Po (701-762), penyair jalang penuh gelora yang hidup sezaman dengannya, tampaklah ia bukan sesosok pribadi yang mengesankan khalayak ramai. Puisinya bahkan tak masuk dalam sejumlah antologi utama yang disusun semasa ia hidup, dan bertahun-tahun sesudah ia wafat. Continue reading “Tu Fu”

Rilke

Hasif Amini
Kompas, 26 Maret 2006

Ia barangkali bisa disebut penyair modern paling serius. ”Serius” di sini tak sekadar mengacu pada ketinggian mutu karya, tetapi juga merujuk pada kesungguhan diri dan karyanya dalam menghadapi dunia. Nyaris tak ada ironi atau sikap bermain-main dalam sajaknya. Yang tergelar dari kata-katanya adalah sebuah alam batin yang terus mencari kesejatian di tengah dunia benda yang tampak menyimpan misteri dan kedahsyatan. Potret-potret dirinya, yang hampir tak pernah memperlihatkan wajah tersenyum atau tertawa, adalah sebuah pesan lain tentang sikap tak main-main itu. Continue reading “Rilke”

Ars Poetica

Hasif Amini
Kompas, 14 Mei 2006

Bila tak sedang memerikan hal-ihwal dunia (dan) manusia, puisi kadang menengok kembali dirinya sendiri. Lewat tangan si penyair, kata-kata lepas dan bermain,
bekerja, sesekali bercermin, merenung: apa sesungguhnya puisi, apa yang mestinya dilahirkan oleh puisi, apa yang mesti dijalankannya, apa yang tidak, dan seterusnya. Dan pencandraan diri seperti itu ternyatalah bukan hanya gejala modern kemarin sore. Continue reading “Ars Poetica”