“AKU YANG BERKAOS OBLONG”: MENYINGGUNG PERASAAN ORANG KARENA MISKIN

Hasnan Bachtiar
kataitukata.wordpress.com

Hai sobat pembaca. Aku hanyalah aku, orang biasa yang punya hak untuk mengungkapkan segala hal yang pernah kualami. Kesakitan, kepedihan, penderitaan, malu, hingga apa yang kurasakan sebagai kebahagiaan.

Sebagai pekerja serabutan, tentu saja gajiku kecil (hanya 1 juta, seratus ribu rupiah). Hampir mustahil untuk membiayai seluruh keluargaku dengan cara hidup yang standar (semua tersedia). Mungkin cukup untuk membeli beras, kerupuk, gas, membayar listrik, menabung untuk menyewa rumah, dan membayar uang sekolah anak-anak yang kuasuh. Selebihnya, tidak ada. Sudah habis. Bahkan untuk mengurus diriku sendiri. Baca selengkapnya ““AKU YANG BERKAOS OBLONG”: MENYINGGUNG PERASAAN ORANG KARENA MISKIN”

Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru

Hasnan Bachtiar *

Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam nabi, supaya sejarah menjadi jinak dan mengirim sepasang merpati – Kuntowijoyo –

UPAYA susastra seorang sastrawan, adalah aktivitas sejarah. Betapapun di era kontemporer ini marak dikumandangkan karya sastra yang dianggap otonom, maka penulis sastra tidak pernah terbang dari bumi di mana ia berpijak. Baca selengkapnya “Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru”

Melawan Dehumanisasi Sastra Sutardjian

Hasnan Bachtiar *

“Kritik sastra…mencerminkan bukan saja kematangan estetik kita, tetapi juga kejelasan intelektual, kesungguhan moral yang sekaligus mentakrif kemanusiaan kita.” (Azhar Ibrahim Alwee)

SUATU artikulasi estetis yang dituangkan dalam karya sastra bukanlah kata-kata tanpa mutu, karena selalu memiliki kualitas-kualitas makna. Makna hidup, makna dunia, dan makna-makna yang terlahir dari nurani penciptanya. Namun yang jarang disadari adalah, sebagai goresan pena penyair, bahwa syair-syair (termasuk kritik sastra) merupakan ungkapan intelektual. Baca selengkapnya “Melawan Dehumanisasi Sastra Sutardjian”

Syair-Syair Pembebasan

Hasnan Bachtiar *

GONJANG-GAJING kenaikan BBM menggelisahkan seluruh rakyat kecil. Kelas terpinggirkan khawatir, kemanusiaannya semakin menjerit di tengah gelombang derita kemelaratan. Dalam ketidakberdayaan, sesungguhnya selemah-lemah suara hati, ingin didengar oleh orang lain. Di titik inilah, kadang kemanusiaan tertuang dalam artikulasi estetis. Anak rohani terlahir sebagai sajak perlawanan. Baca selengkapnya “Syair-Syair Pembebasan”