PAUS SASTRA INDONESIA

Imawati Rofiqoh *
100tahunhbjassin.wordpress.com

Sang paus berwajah bulat, memiliki tahi lalat di pipi dan berkacamata. Ia tak sedang berenang di laut atau berada di hadapan umat. Ia ada di sampul buku, menemui pembaca dengan kata-kata dan peristiwa. Buku itu digarap oleh Pamusuk Eneste berjudul H.B. Jassin Paus Sastra Indonesia, diterbitkan oleh Djambatan (1987). Gambar sang paus memakai baju batik, nyaris memenuhi sampul. Kulitnya nampak keriput dan pipi bergelambir, namun tak tampak lesu. Tangannya mengepal bersama sorot mata yang tajam. Pembaca bisa saja segera menduga ia tokoh penting di Indonesia. Sampul memang sering sengaja menggoda, mengajak berkeputusan membaca atau berlalu saja. Baca selengkapnya “PAUS SASTRA INDONESIA”

IQRA’ JASSIN

Mutimmatun Nadhifah *
100tahunhbjassin.wordpress.com

Untuk membuktikan tidak ada terjemahan yang radikal dalam Bacaan Mulia sebagaimana dulu pernah dituliskan Peter G. Riddell dan beberapa intelektual lain, kita bisa membuktikan dari terjemahan wahyu pertama yang diturunkan kepada Muhammad: iqra’. Jassin menerjemahkan ayat pertama surat al-‘Alaq dengan tetap menggunakan frasa yang biasa digunakan oleh kebanyakan ahli tafsir dan penerjemah Alquran di Indonesia. Baca selengkapnya “IQRA’ JASSIN”

H.B. JASSIN DAN DOKUMENTASI SASTRA INDONESIA

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 18 Juni 2010.

Tumbuh dan berkembangnya sastra Indonesia pada satu sisi, tidak lepas dari peran H.B. Jassin, yang pada zamannya menempatkan diri sebagai kritikus sastra. Apa yang ditulis, H.B. Jassin saat memberikan ulasan terhadap apa yang telah dibacanya itu, sebagaimana dikatakan novelis Mochtar Lubis dalam buku H.B. Jassin 70 Tahun (1987) tidak membunuh, melainkan memberikan motivasi. Tujuannya adalah, agar di kemudian hari, sastrawan yang diulas karyanya itu bisa menulis lebih baik lagi. Baca selengkapnya “H.B. JASSIN DAN DOKUMENTASI SASTRA INDONESIA”