Tag Archives: Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa SAAT BERI PELATIHAN, SUARA MORTIR MENGGELEGAR

http://nostalgia.tabloidnova.com/

Perempuan kelahiran Medan 2 April 1970 ini membuat kelompok yang mencetak kader penulis lewat Forum Lingkar Pena. Berkat kerja kerasnya, FLP sudah ada di 30 provinsi di Indonesia, bahkan di beberapa negara tetangga. Yang luar biasa, sudah 5.000 orang jadi anggota dan 750 di antaranya berhasil menjadi penulis. Selain itu, karya sastra ketua umum FLP ini juga sudah mendunia.

Tentang Helvy Tiana Rosa

Bai Ruindra
http://www.kompasiana.com/Bai.Ruindra

Mengenal Helvy

Bukan karena Ketika Mas Gagah Pergi saya mengenal sosok Helvy Tiana Rosa, melainkan sebagai pimpinan redaksi majalah Annida. Waktu itu saya memang kerap sekali membaca Annida apalagi cerpen-cerpennya sangat menarik dan berbeda bagi saya. Lalu di beberapa kesempatan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi diagung-agungkan sebagai maha karya terbesar Helvy, tentu saja saya mencari dan ingin membaca.

FLP Hong Kong dan Sastra Perempuan di Negeri Beton

Helvy Tiana Rosa
http://helvytr.multiply.com/

“Menulis, mencipta sastra, membuatku merasa menjadi orang yang lebih berarti,” itulah yang dikatakan Wina Karnie, Syifa Aulia dan Swastika Mahartika, tiga TKW di Hong Kong, yang meluncurkan dua buku kumpulan cerpen mereka: Perempuan di Negeri Beton (Haniya Press) dan Hong Kong Topan Badai ke 8 (Doyan Baca Publishing House), di Masjid Tsim Sha Tsui, 4 Juni 2006.

Hikayat Wong Cilik di Tengah Sastra Urban (II)

Helvy Tiana Rosa*
Republika, 28 Sep 2008

ANDI Birulaut juga dapat menjadi contoh, bagaimana seorang “preman” kemudian bermetamorfosis menjadi pengarang, dan berhasil membawa preman-preman lain di daerah sekitar Penjaringan, Jakarta Utara, untuk peduli dan bergerak membuka Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya), bagi anak dan remaja dhuafa di sana.

Hikayat Wong Cilik di Tengah Sastra Urban (I)

Helvy Tiana Rosa
Republika, 21 Sep 2008

“Sastra bukan sekadar menyapa. Ia telah memerdekakan saya dengan caranya sendiri….” (Syifa Aulia)

Kalimat yang dilontarkan Syifa Aulia di tengah canda teman-temannya di Kowloon Park bertahun-tahun lalu itu ternyata serius.Lebih kurang 10 tahun lalu ia berangkat ke Hong Kong, salah satu kota paling sibuk di dunia, untuk mengadu nasib yang lebih baik, meski harus menempuh jalan sebagai seorang domestic helper (PRT).