SASTRA YANG HENDAK MENJAUH DARI TUHANNYA

Hudan Hidayat
Jawa Pos, 6 Mei 2007.

Nakal” dan” santun”, “pornografi” atau “suara moral”,”gelombang syahwat” seperti kata Taufik Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua.”

PIDATO Kebudayaan Taufik Ismail di depan Akademi Jakarta pada 2006, bukan hanya menyerang sendi sastra dan seni, tapi telah memporandakkan hidup itu sendiri. Dengan pidato itu Taufik telah meringkus kompleksitas dunia pada satu ruang. Yakni, ruang agama formal. Baca selengkapnya “SASTRA YANG HENDAK MENJAUH DARI TUHANNYA”

‘Ruang Kebebasan’ Dalam Novel Kontemporer

Hudan Hidayat*
Republika, 24 Juni 2007

NOVEL, sebagai karya sastra, harus diletakkan dalam hubungan antara Tuhan, alam dan manusia. Tuhan, sebagai Maha Kesadaran yang tak berbentuk, memerlukan semesta untuk menampakkan kehadiran-Nya. Kita bisa menandai kehadiran Tuhan melalui bentuk ciptaan-Nya. Yakni dunia dan manusia.

Tuhan memang bisa membuat apa saja, tetapi bentuk yang dibuat-Nya itu tetap mengandaikan waktu. Waktu yang memuat tahapan dalam proses yang kita nikmati atau sesali. Baca selengkapnya “‘Ruang Kebebasan’ Dalam Novel Kontemporer”