Tag Archives: I Wayan Artika

Cinta, Kasta, Rasa

Dua Produksi Teater Berbahasa Bali Himasaba 2011
I Wayan Artika
http://www.balipost.co.id/

MATA kuliah drama pada jurusan-jurusan pendidikan bahasa di Fakultas Bahasa dan Seni, sangat penting karena memiliki dimensi ganda: belajar teori drama dan pertunjukan secara langsung dan menggunakan keterampilan bermain peran untuk keperluan mengajar bagi mahasiswa calon guru. Karena itulah, di Jurusan Pendidikan D3 Bahasa Bali Undiksha Singaraja, mata kuliah drama mendapat porsi waktu yang sangat memadai. Pada akhir semester, mahasiswa wajib mempegelarkan satu produksi drama berbahasa Bali.

Memaknai ”Multikultural” Potensi Lokal

I Wayan Artika
http://www.balipost.co.id/

DI Indonesia, sampai saat ini, pluralitas (sebagai sebuah ancaman integrasi dan potensi) hanya dipahami berdasarkan terminologi politik. Hal itu menyebabkan terabaikannya pemahaman-pemahaman terhadap prurarlitas itu. Kesenian etnik sebagai salah satu item dalam pluralitas itu juga tidak diberi apresiasi yang baik. Apresiasi itu bersifat eksklusif, terbatas pada wilayah-wilayah budaya etnik pemiliknya.

Pendekatan Partisipatif dalam Konservasi Warisan Budaya

I Wayan Artika
http://www.sinarharapan.co.id/

Proyek-proyek konservasi warisan budaya yang diprakarsai oleh masyarakat internasional kerap bertentangan dengan masyarakat lokal (masyarakat adat, misalnya).
Pertentangan itu disebabkan oleh perbedaan-perbedaan di antara kedua masyarakat tersebut. Perbedaan-perbedaan itu ditemukan dalam beberapa hal, yaitu visi, pandangan fungsional, perlakuan dan bentuk perlakuan, perilaku pengembangan, semangat dan dasar perlakuan, dan praktik, sehubungan dengan atau terhadap warisan budaya (Wyasa Putra, 2002: 7).

Oase dari Desa Tandus

Judul : Belajar dengan Bahagia Belajar Sambil Bermain
Tim Penyusun : Pembina PSB
Tebal : 450 halaman
Penerbit : Yayasan Gemar Ripah dan Lukita
Peresensi : I Wayan Artika*
http://www.balipost.com/

BUKU sangat penting dalam dunia pendidikan. Buku yang beraneka-ragam isi dan jenisnya itu telah menjadi sumber belajar dan pengajaran. Pertanyaan kita adalah, mengapa guru-guru tidak membuat buku sendiri sesuai dengan kebutuhannya? Apakah betul mereka tidak mampu? Atau ada faktor lain, perasaan tidak mampu atau kurang adanya usaha. Idealnya, guru harus menyusun bahan ajarnya sendiri, sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan sekolah.