Tag Archives: Igk Tribana

Potret Heroik Sagung Wah dalam Karya Sastra

Igk Tribana
http://www.balipost.co.id/

HUT ke-59 Kemerdekaan RI baru saja lewat. Tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia tentu karena pengorbanan para pahlawannya. Jiwanya dikorbankan demi kemerdekaan bangsa dari belenggu penjajahan. Ketika para kesuma bangsa ini berjuang, tidaklah terbetik dalam jiwanya untuk mendapatkan tanda jasa apalagi imbalan berupa materi. Perjuangan dilakukan murni untuk melepaskan bangsa ini dari penjajah. Karena itu, semua warga wajib menghargai jasa para pahlawan seperti kata orang bijak, ”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”.

Catatan Kecil tentang Bali

Judul: Basa Basi Bali.
Penulis: Gde Aryantha Soetama
Penerbit: Arti Fondation, 2002
Tebal: ix + 233 halaman
Peresensi: IGK Tribana
http://www.balipost.co.id/

BUKU ini boleh dikatakan catatan-catatan fenomena yang ada di Bali setelah berkenalan dengan dunia luar. Gde Aryantha Soetama mencoba menyuguhkan tentang Bali dari “sisi dalam” berdasarkan fakta, kesan, pujian atau keluhan orang Bali sendiri di tanah kelahirannya.

Otokritik Sosial Budaya Bali

Judul : Wanita Amerika Dibunuh di Ubud
Penulis : Gde Aryantha Soetama
Penerbit : Arti Foundation, 2002
Tebal : v+115 halaman
Peresensi : IGK Tribana
http://www.balipost.com/

KETIKA upacara pengabenan pamannya, Bram (orang Bali) berkenalan dengan seorang wisatawan bernama Susan dari Amerika Serikat (AS).

Bali, ”Kamar Mandi” Spiritual?

Judul : Kisah Surat dari Legian
Penulis : Sitor Situmorang
Penerbit : Komunitas Bambu
Oktober 2003 (Cetakan I)
Tebal : i-ix = 86 halaman
Peresensi: Igk Tribana
http://www.balipost.co.id/

SITOR Situmorang adalah pujangga kelahiran Tanah Batak pada 2 Oktober 1924. Judul buku ini mengingatkan orang akan tragedi bom Bali, 12 Oktober 2002. Atau, buku ini adalah cerita yang berlatar peristiwa tragedi ledakan bom di Legian.

Memaksa Anak Baca Buku Sastra

Igk Tribana
http://www.balipost.com/

SEBAGAI guru bahasa dan sastra, saya (penulis) menyampaikan bahwa setiap siswa wajib membaca sekurang-kurangnya tiga buku sastra tiap semester. Hal ini disampaikan lebih awal agar nantinya tugas siswa tidak menumpuk.

Seperti diduga sebelumnya, anak pun kurang percaya apa yang penulis katakan. Setelah salah seorang siswa bertanya, penulis tegaskan lagi bahwa tiap siswa wajib membaca minimal tiga buku sastra pada semester itu — entah novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, atau naskah drama. Setelah membaca buku sastra, siswa terus menulis resensinya. Cara menulis resensi pun dipaparkan. Tugas itu dikumpulkan dua bulan kemudian.