Strategi Estetik Kuntowijoyo dan Umar Kayam

Indra Tranggono *
Kedaulatan Rakyat, 9 Agu 2015

STRATEGI estetik selalu dibutuhkan bagi setiap penulis karya sastra, baik cerpen, novel maupun puisi. Strategi estetik bisa dipahami sebagai pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan perwujudan/pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi dalam melahirkan karya seni (dalam hal ini sastra). Terkait dengan hal tersebut, menarik untuk dibahas proses kreatif dua sastrawan besar Kuntowijoyo dan Umar Kayam. Continue reading “Strategi Estetik Kuntowijoyo dan Umar Kayam”

“Aku” dan “Saya”

Indra Tranggono *
Kompas, 16 Apr 2016

Seperti manusia, bahasa Indonesia juga punya jiwa. Kita menjadi kenal jiwa bahasa ketika menggunakannya. Kita harus tepat memilih kata karena di dalam komunikasi lisan dan tulis ada etiket yang harus ditaati agar kita dianggap tidak sombong atau tidak santun. Contohnya tersua di dalam penggunaan kata “aku” dan “saya”. Continue reading ““Aku” dan “Saya””

Celoteh

Indra Tranggono *
Kompas, 13 Mei 2017

Celoteh atau ocehan kini mendapat istilah baru, yaitu cuitan atau kicauan (versi Twitter) dan status (versi Facebook). Celoteh atau ocehan merupakan istilah khas yang muncul dari praktik berbahasa dalam komunikasi konvensional alias tatap muka. Dalam dunia digital, komunikasi tatap muka sering disebut komunikasi luring, luar jaringan. Yakni, komunikasi langsung, nyata (lawan dari maya), dan autentik (lawan dari semu, palsu). Di sana pihak-pihak yang berkomunikasi hadir secara manusiawi, menyosok secara multidimensional, memiliki gagasan, berperasaan, berekspresi, dan beridentitas (bukan anonim). Continue reading “Celoteh”

“Terbunuhnya” Kultur Tatap Muka

Indra Tranggono *
Kompas, 29 Maret 2009

SETIDAKNYA sejak era 1980-an, tanpa sadar, ”kita” menyelenggarakan ”perkabungan” kebudayaan atas ”terbunuhnya” kultur tatap muka. ”Kita” makin kesulitan untuk bertemu, berdialog secara intens, saling menyelami batin, mencium bau keringat, dan mengenali kemanusiaan dalam sebuah ruang sosial yang kondusif. ”Kita” mengalami keterasingan: kesendirian pun telah mengkristal menjadi kesunyian. Continue reading ““Terbunuhnya” Kultur Tatap Muka”