“Terbunuhnya” Kultur Tatap Muka

Indra Tranggono *
Kompas, 29 Maret 2009

SETIDAKNYA sejak era 1980-an, tanpa sadar, ”kita” menyelenggarakan ”perkabungan” kebudayaan atas ”terbunuhnya” kultur tatap muka. ”Kita” makin kesulitan untuk bertemu, berdialog secara intens, saling menyelami batin, mencium bau keringat, dan mengenali kemanusiaan dalam sebuah ruang sosial yang kondusif. ”Kita” mengalami keterasingan: kesendirian pun telah mengkristal menjadi kesunyian. Continue reading ““Terbunuhnya” Kultur Tatap Muka”

Wajah Itu Membayang di Piring Bubur

Indra Tranggono
Kompas, 8 April 2012

SELALU setiap hari, Sumbi menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Bubur itu ia buat sendiri, dari beras terbaik—rojo lele—yang dicampur santan kelapa kental, sedikit garam dan ditaburi gerusan gula jawa. Setiap menyajikan bubur itu, mulut Sumbi selalu mengucap doa untuk keselamatan Murwad yang hingga kini belum pulang. Continue reading “Wajah Itu Membayang di Piring Bubur”

Ode buat Babi Hutan

Indra Tranggono
Suara Merdeka, 12 Feb 2012

SEEKOR babi hutan membeku dalam padat tembikar. Matanya merah, menatap nanar. Menatapmu. Menatap siapa saja yang melintas dalam manik matanya. Taring-taringnya putih agak abu-abu, kusam dengan noktah-noktah darah. Tubuhnya agak tambun, lebat ditumbuhi bulu-bulu kasar. Pada tubuh yang mirip punggung bukit kecil itu, menganga lubang 3X ? sentimeter, tempat kamu memasukkan uang keras atau koin uang. Continue reading “Ode buat Babi Hutan”

Mencari Garuda Ketemu Iblis

Indra Tranggono *

Bagi publik teater yang mengikuti perkembangan teater tahun 1980-an, tentu tidak asing dengan kelompok teater pimpinan Fajar Suharno (eks Bengkel Teater) ini. Pada periode itu, Dinasti pernah tampil antara lain melalui Geger Wong Ngoyak Macan.

Berdiri pada 1977, Dinasti bisa disebut kelompok teater yang mengambil peran penting dalam dinamika seni, budaya, dan politik di negeri ini, pada saat represi Orde Baru menguat. Continue reading “Mencari Garuda Ketemu Iblis”