Ahmadun Yosi Herfanda: Karya Sastra di Ruang Digital Makin Anarkistis

Irwan Kelana
republika.co.id, 13 Jan 2021

Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda mengatakan karya-karya sastra yang muncul di ruang digital makin anarkis. “Anarkisme estetika makin kuat. Makin banyak puisi yang tidak estetik. Bahkan, ada novel yang cenderung porno,” kata Ahmadun dalam diskusi “Sastra Setelah Media Cetak Tiada” yang diadakan oleh Imaji Indonesia dan Majalah Sastra Imajisia, Sabtu (9/1) melalui aplikasi Google Meeting. Continue reading “Ahmadun Yosi Herfanda: Karya Sastra di Ruang Digital Makin Anarkistis”

Cinta di Ujung Senja

Irwan Kelana *
Republika, 1 Apr 2012

SEJAK awal aku sebetulnya tidak mau datang ke acara reuni ini. Apalagi ketika Muhsin, kawan karibku sewaktu di aliyah dulu, mengatakan bahwa Dini akan datang.

Tapi, Bu Yetty, guru yang paling mengerti tentang diriku, dan kepadanya aku dan Dini sering curhat, memaksaku. “Ilham, datang ya. Ibu kangen sama kamu. Sudah lima belas tahun nggak ketemu,” ucapnya di telepon minggu lalu. Continue reading “Cinta di Ujung Senja”

‘Papyrus’ yang Mampu Menyihir Penonton

Irwan Kelana
Republika, 31 Mei 2006

Jarang acara peluncuran buku puisi semeriah launching buku Papyrus karya Fatin Hamama itu.

Ketika Tuhan mengirimkan wahyu kepada kekasih-Nya, Muhammad Sang Rasul, berupa Surah Al-Hadid, yang artinya besi, tentu bukan tanpa maksud. Dengan sifat Rabbani-Nya, Allah SWT ingin mendidik hamba-hamba-Nya melalui berbagai kisah dan tamsil. Salah satunya adalah besi. Continue reading “‘Papyrus’ yang Mampu Menyihir Penonton”