SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (6)

: Filsafat Manusia dalam Novel Iwan Simatupang

Djoko Saryono *

Bagi Iwan Simatupang, hidup manusia merupakan proses mencari jatidiri yang dilakukan dengan menggelandang, mengembara, berziarah terus-menerus, dan migrasi terus-menerus. Ini dimaksudkan agar makna hidup di dunia ditemukan. Dalam proses ini sebenarnya manusia berhadapan dengan persoalan absurditas hidup, irasionalitas hidup, dan ketidakpahaman akan hidup. Tokoh-tokoh novel Iwan menggambarkan hal ini. Tokoh-tokohnya berhadapan dengan kehidupan yang absurd, irasional, dan tidak terpahami. Continue reading “SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (6)”

SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (5)

: Filsafat Manusia dalam Novel Iwan Simatupang

Djoko Saryono

Hakikat manusia hanya dapat ditemukan dalam keberadaannya di dunia sehingga hidup manusia dan pergumulan hidup manusia menjadi penting. Hal ini tegas sekali disiratkan dalam novel-novel Iwan Simatupang. Melalui novel-novelnya, Iwan tampak hendak meyakinkan kita bahwa hidup manusia beserta pergumulannya dengan berbagai permasalahan teramat penting karena di situlah manusia menemukan hakikatnya sebagai manusia. Continue reading “SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (5)”

SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (4)

: Manusia dalam Novel Iwan Simatupang

Djoko Saryono

Anthropoligical constants merupakan dorongan-dorongan dan orientasi tetap manusia. Setidak-tidaknya ada enam anthropological constant yang bisa ditarik dari pengalaman sejarah umat manusia, yaitu (i) relasi manusia dengan kejasmanian, alam dan lingkungan ekologis, (ii) keterlibatan dengan sesama, (iii) keterikatan dengan struktur sosial dan institusional, (iv) ketergantungan masyarakat dan kebudayaan pada waktu dan tempat, (v) hubungan timbal balik antara teori dan praksis, dan (vi) kesadaran religius. Continue reading “SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (4)”

SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (3)

: Manusia dalam Novel Iwan Simatupang

Djoko Saryono

Manusia dan keberadaannya di dunia selalu dan tetap menjadi suatu tanda tanya atau persoalan mahabesar bagi dirinya sendiri. Malahan tanda tanya atau persoalan mahabesar itu sering menghempaskannya ke dalam ketidakberdayaan, ketidaksanggupan, dan ketidakmampuan untuk memahami dirinya sendiri dalam keberadaannya di dunia. Continue reading “SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (3)”