Tag Archives: Iyut FItra

Jendela Tua

Iyut Fitra
http://cetak.kompas.com/

Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan.

Sajak-Sajak Iyut FItra

http://www.korantempo.com/
SESEORANG YANG TERUS BERLARI
: d u

kau tentu ingat ketika kita bercakap di tepi kolam sebuah hotel
gerimis turun ragu dan matamu merah lindap setelah beberapa botol wine
“aku lelah untuk terus berlari. tapi dari kota ke kota ledakan itu terus memburu!”
ujarmu menyingkap badan. ada beberapa bekas luka menghitam

Sajak-Sajak Iyut FItra

http://www.padangekspres.co.id/
PADA AGITASI SUNYI
?16 februari; fina sato

waktu yang tersepuh menjalar jua ke jalan-jalan. sepotong tahun patah
tua mengusung nama-nama. sebelum ruh, sebelum orang-orang ternganga pada ada
kau lihatkah ia lewat?
siapa bertanya ketika matahari mulai tinggi, bulan-bulan rawan,
hari terbuhul dalam hitungan
dan kalender kusam itu. irama gegap pertarungan. membantai nasib demi nasib