Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra

Azwar Nazir *
sosbud.kompasiana.com

Dalam sebuah acara pertemuan sastra di Jogjakarta pada tahun 2005, seorang laki-laki kurus agak tinggi hadir dengan pakaian sederhana, kaos oblong dan celana jeans dengan topi hitam yang agak lusuh bertengger di atas kepalanya. Perhatian saya tertuju pada laki-laki sederhana itu, kumis yang seperti tidak terurus tidak mengesankan dia sebagai laki-laki garang tapi seorang yang merakyat yang luar biasa. Diam-diam saya mendengar bisik-bisik beberapa kawan sesama penulis, ‘Mas Joni dah datang tuh!’, mendengar namanya saya teringat sebuah tulisan di Majalah Annida edisi ekslusif tentang proses kreatif lelaki pengarang itu. Continue reading “Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra”

Horison Sastra Indonesia

Joni Ariadinata *
infoanda.com/KoranTempo

Kalau Beni R. Budiman (Koran Tempo, 16/2) mengawali tulisannya dengan kalimat pembuka yang berisi pernyataan (pengakuan?) sebuah “kebingungan”, maka itu pantas baginya. Sebuah antologi besar semacam Horison Sastra Indonesia (HSI), memang tidak bisa disikapi secara serampangan, apalagi dengan nawaitu kecurigaan yang besar. Kapasitas Beni R. Budiman bisa diukur lewat tulisannya di harian ini, juga di Media Indonesia (10/2) yang kurang lebih sama. Continue reading “Horison Sastra Indonesia”

Yogyakarta dan Barometer Cerita Pendek Indonesia

Joni Ariadinata
Kedaulatan Rakyat 02/17/2007

Saat ini, memasuki milenium ke tiga, di saat negara-negara tetangga kita (Malaysia, Singapura, Pilipina, dan kemudian menyusul Cina serta India) sudah mulai mensejajarkan diri di panggung global; Indonesia justru terpuruk dan kehilangan kesejarahannya. Kita tetap meyakini sebagai bangsa yang luhur, halus, berbudi pekerti dan sopan santun; tapi kekerasan dan kebrutalan (teror, pembunuhan, penjarahan) adalah fakta yang menghancurkan harga diri bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia, kini lebih dikenal sebagai salah satu negara terbelakang yang kasar dan primitif. Continue reading “Yogyakarta dan Barometer Cerita Pendek Indonesia”

Haji

Joni Ariadinata
Pikiran Rakyat 02/17/2007

Karena bukan cerita fiksi, maka tidak mungkin Haji Jupri kawin dengan Marsiti. Tapi entah kenapa, kisah ini kemudian berkembang menjadi ruwet. Bahkan, menjadi bahan perdebatan tak habis-habis di warung-warung, tegalan, pasar, hingga masjid. Mulanya sih hanya iseng. Suatu hari Pak Haji tanya pada Kang Sirin, “Apa kamu punya bibit yang bagus, Rin?” katanya. Tentu, Pak Haji memang paling akrab dengan Kang Sirin. Bukan hanya karena Kang Sirin adalah langganan becaknya selama bertahun-tahun, tapi karena ketulusan dan keriangan Kang Sirin yang membuat Pak Haji betah. Continue reading “Haji”