Perihal Sastra Kerakyatan, Sastra Pergerakan, dan Sastra Perlawanan

Djoko Saryono *

/1/
Makna istilah rakyat dan bukan rakyat bisa merujuk pada kategori sosial politik dan sosial ekonomi. Ketika ada pejabat mengatakan bahwa rakyat nggak jelas, dia memosisikan diri sebagai penguasa. Di sini istilah rakyat beroposisi biner dengan penguasa, yang bisa kita sebut sebagai kategori sosial politik. Tatkala para politikus dan pejabat pemerintah selalu menyebut kata rakyat di dalam setiap pidato, mereka sedang membuat garis batas makna antara rakyat dan bukan rakyat, yang juga bisa kita sebut sebagai kategori sosial politik. Continue reading “Perihal Sastra Kerakyatan, Sastra Pergerakan, dan Sastra Perlawanan”

Eros dan Sastra

D.A. Peransi

Akhir-akhir ini banyaklah diterbitkan roman dan cerita yang dengan jelas sekali menggambarkan fakta-fakta seksual. Beginilah kebohongan-kebohongan terbesar itu dilakukan atas nama kejujuran dan keterusterangan. Penentuan sinis bahwa dunia sudah demikian dan bahwa hal-hal tersebut lebih baik, juga diceritakan, bukanlah kebenaran yang terakhir. Amatlah berfaedah untuk mencoba sampai pada pengertian dan dengan demikian sikap sebenarnya terhadap lektur semacam itu. Continue reading “Eros dan Sastra”

Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta

H.B. Jassin

SIFAT 20 menyebutkan bahwa Tuhan Melihat. –Apakah Ia punya Mata? Tuhan Mendengar. –Apakah Ia punya Mulut? Punya Lidah? –Kalau Tuhan bisa murka sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran, mengapa Ia tidak bisa Tersenyum atau Tertawa?

Tidak! Tidak semua itu!! Apa pun pertanyaan kita dan apa pun jawaban kita, senantiasa Ia lebih dari mempunyai sifat dan keadaan yang bisa kita gambarkan. Ia adalah Mukhalafat lil hawadith, beda dari segala yang baru. Continue reading “Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta”

MENcatat DEMAM – memendam TACAT – Produk Sayembara Puisi yang Kacau

Shiny.ane el’poesya

Mungkin saat ini kita bisa mengatakan, bahwa kita kembali tak lagi dapat percaya pada seyembara-sayembara buku puisi yang ada di dalam tubuh sejarah Sastra Indonesia. Terlalu mudah untuk melihat begitu seringnya publik sastra kecewa pada beberapa kali hasil keputusan sayembara-sayembara tersebut. Terlalu sering pula pembaca kritis bukan lagi angkat bicara atau menepuk jidat, melainkan mengelus-mengelus dada atas hasil yang dikeluarkan oleh lembaga-lembanga penyelenggara sayembara tersebut. Terhadap hasil sayembara Hari Puisi Indonesia 2019 akhir tahun kemarin, misalnya. Continue reading “MENcatat DEMAM – memendam TACAT – Produk Sayembara Puisi yang Kacau”