Sastra dan Daya Hidup

Kuss Indarto

Dulu, saat kuliah dan tinggal di Baciro, aku mengenal Yono, seorang tukang becak yang diduga juga preman kampung. Orangnya relatif masih muda, perawakannya besar dengan tinggi sekitar 175 cm. Meski terbilang jarang, namun sesekali dia menyambangiku dan berbisik, “Mas, mbok aku nunut baca Koran KR dan Bernas-nya ya.” Aku menduga tindakan itu dilakukannya karena sepagian dia belum dapat penumpang, atau sudah dapat tapi belum tersisa “anggaran” untuk membeli Koran Kedaulatan Rakyat (KR) atau Bernas, Yogyakarta. Continue reading “Sastra dan Daya Hidup”

Novel telah Mendoktorkan Aprinus Salam

Kuss Indarto

SEPULUH buah novel telah mengantarkan Aprinus Salam meraih gelar doktor. Ya, ada novel-novel karya sastrawan asal Jatilawang, Banyumas, Ahmad Tohari yang jadi bahan rujukan utama, yakni Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera Bianglala, Trilogi Dukuh Paruk, dan Bekisar Merah. Lalu dua novel sejarawan Kuntowijoyo: Pasar dan Mantra Pejinak Ular, Canting-nya Arswendo Atmowiloto, dan novel karya Umar Kayam: Para Priyayi, dan Jalan Menikung (Para Priyayi 2). Continue reading “Novel telah Mendoktorkan Aprinus Salam”