Linus Suryadi Sebagai Korban Kultur Jawa

F. Rahardi
frahardi.wordpress.com

Penyair Linus Suryadi AG (3 Maret 1951- 30 Juli 1999) dalam karya maupun hidup sehari-hari adalah khas stereotip Jawa. Senang perkutut, punya banyak keris tapi takut berkelahi apalagi membunuh. Doyan tongseng kambing meskipun darahnya tinggi dan selalu nrimo. Kepenyairannya dimulai dari tahun 1971. Saat itu Yogya sedang diperintah oleh “Presiden Malioboro” Umbu Landu Paranggi. Dia ini penyair Sumba yang bermukim di Yogya dan mengasuh Persada Studi Klub, lembar sastra dan budaya koran Pelopor. Salah satu anak didik Umbu adalah Linus. Meskipun waktu itu Linus belum apa-apa, sebab yang paling hebat karena puisinya bisa dimuat majalah Horison adalah Iman Budi Santosa. Continue reading “Linus Suryadi Sebagai Korban Kultur Jawa”

LINUS DAN PARIYEM

R. Fadjri, L.N. Idayanie, Dwi Arjanto, Agus S. Riyanto
Majalah Tempo, 9 Agu 1999

LINUS adalah Pariyem. Pariyem adalah Linus. Kedua nama itu bak dua sisi mata uang. Jika dibolak-balik tetap mencitrakan pribadi yang sama. Nama lengkap yang pertama adalah Linus Suryadi Agustinus, seorang penyair yang wafat pada Jumat 30 Juli lalu, dalam usia 48 tahun. Sedang nama lengkap yang kedua adalah Maria Magdalena Pariyem alias Iyem, tokoh rekaan sang penyair dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem. Continue reading “LINUS DAN PARIYEM”