Tag Archives: M Arman AZ

Kado Buat Narau

M Arman AZ
http://www.suarakarya-online.com/

Bibir Cana bagai dua iris apel segar yang mengundang selera. Dia baru selesai memulasnya dengan lipgloss. Narau gemas, tak sabar ingin mencicipi. Dan kini jarak bibir mereka tak lebih dari lima senti. Nafas Narau tertahan di kerongkongan. Jakunnya berdenyut. Sesuatu dalam celananya menggeliat.

Cerpen Religius ala Hamsad Rangkuti

Judul buku : Panggilan Rasul
Pengarang : Hamsad Rangkuti
Penerbit : KPG
Cetakan : September 2010
Halaman : vi + 111 hlm
Peresensi : Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

PULUHAN tahun mengabdi di ranah penulisan cerpen telah menempatkan Hamsad Rangkuti dalam gerbong terdepan sastra Indonesia. Tak lengkap bila tak menyebut nama beliau dalam deretan cerpenis terkemuka Indonesia beberapa dekade belakangan ini.

Sebutir Peluru Tak Mampu Membuat Mawar Itu Layu

M. Arman AZ
http://www.sinarharapan.co.id/

Jika punya kuasa melipat jarak dan waktu, aku ingin pulang sejenak ke masa lalu, mengabarkan pada ibu bahwa sebutir peluru tak mampu membuat mawar itu layu.

Musim baru saja berganti. Langit mendung dan dingin mengepung. Seperti senja kemarin, aku kembali duduk di beranda, bersama segelas kopi dan sebungkus rokok. Menunggu gerimis pertama luruh di awal bulan ini.

Laut Dalam Puisi Isbedy Stiawan ZS

Peresensi Buku: M. Arman AZ
Judul buku: Perahu di Atas Sajadah (kumpulan puisi islami)
Pengarang: Isbedy Stiawan ZS
Penerbit: Bukupop, Jakarta
Cetakan: Oktober 2006
Halaman: xii + 84 hlm.
http://www.suarakarya-online.com/

Di awal tahun 1980-an, pemikiran sufisme menjadi tren dalam dunia perpuisian Indonesia. Puisi-puisi sufistik di masa itu ditandai dengan banyaknya “penyair-penyair sufi” seperti Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosi Herfanda, Jamal D. Rahman, Soni Farid Maulana, Isbedy Stiawan ZS, Mathori A. Elwa dan lainnya.

TINJA DABO

M. Arman AZ
http://www.suarakarya-online.com/

Kota basah kuyup jam dua malam. Dari balik langit hitam, jemari raksasa itu belum juga letih menabur serbuk-serbuk air ke bumi. Jalanan senyap. Orang-orang mengurung diri dalam rumah. Sembunyi dari gigitan dingin. Sesekali terdengar desis roda mobil berlari menyibak gerimis. Tiang lampu jalan menjulang bagai pepohon besi tanpa daun dan ranting. Di pucuknya, lampu bundar memancarkan cahaya bulat keemasan.