AKAR TRADISI SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana

Belanda sebagai negara kecil di Eropa sebenarnya cukup punya reputasi yang baik sebagai negara kolonial yang berhasil merambahkan kekuasaannya sampai ke Afrika. Meski begitu, Belanda termasuk salah satu negara kolonial yang gagal menanamkan jejak peradabannya di negara bekas koloninya dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, seperti Inggris, Prancis, Portugis atau Spanyol. Paling tidak, bahasa dan agama yang ditinggalkan negara-negara kolonialis itu menciptakan semacam ikatan sejarah yang menghubungkan negara-negara itu dengan bekas wilayah koloninya. Belanda tidak! Agama tidak, bahasa pun tak! Continue reading “AKAR TRADISI SASTRA INDONESIA”

APA SIH, SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana

Sebelum membincangkan lebih jauh tentang problematika sastra Indonesia, perlu kiranya merumuskan dahulu, apa sih, sastra Indonesia itu? Jika kita bersepakat dengan konsep, apa yang dimaksud sastra Indonesia, barulah kita meneroka lebih jauh ke tradisi yang melatarbelakanginya; apa yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri karya sastra itu termasuk sastra Indonesia; apa pula syarat yang menyertainya. Continue reading “APA SIH, SASTRA INDONESIA”

PERJALANAN PUISI NARATIF

Maman S Mahayana
Kompas, 4 Agu 2018

Ada banyak cerita tentang tradisi puisi kita. Konon, sumbernya dari Eropa, khususnya Belanda. Muhammad Yamin memperkenalkan soneta. Ia lalu dianggap yang mengawali tradisi puisi Indonesia (modern). Sutan Takdir Alisjahbana (STA, 1946) menyebutnya puisi baru untuk membedakannya dengan puisi lama. Garis pemisahnya terjadi abad ke-20. Bagi STA, sebelum abad itu, puisi lama sebagai pancaran masyarakat lama, zaman jahiliyah, pra-Indonesia. Selepas tahun 1900, bergeraklah puisi (baru) Indonesia. Gagasan itulah yang membentuk dikotomi puisi lama—baru, tradisional —modern. Buku yang disusun Sapardi Djoko Damono (2003), Puisi Indonesia sebelum Kemerdekaan, mewartakan lain. Ia menguak sejumlah puisi abad ke-19. Continue reading “PERJALANAN PUISI NARATIF”

Catatan Kurator: Jejak Kritik Sastra

Maman S Mahayana

Selalu! Menghimpun sebuah antologi bersama dengan ragam dan tema apa pun, problemnya jatuh pada perkara pilihan. Tambahan pula, jika jumlah karya tidak berkutik ketika berhadapan denganketentuan halaman, maka segalanya mesti dipikirkan kembali, dipertimbangan keterwakilannya dengan tetap menjaga tema yang hendak dikedepankan. Jadi, begitulah! Pilihan mesti dijatuhkan, dan pemuatan karya terpaksa bernegosiasi dengan jumlah halaman. Itulah yang terjadi dalam penyusunan antologi esai ini. Maka, selalu, di sana-sini, ada yang luput, tercecer, dan tenggelam.Seperti nasib sebuah kamus, ia ditakdirkan untuk tidak lengkap! Continue reading “Catatan Kurator: Jejak Kritik Sastra”