Tag Archives: Maman S. Mahayana

MENOLAK KONON: SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN

Editor: Maman S Mahayana

Guna mengetahui serba sedikit proses penyusunan buku ASPI, berikut saya sertakan semacam Pertanggungjawaban Editor. Silakan dicermati.
“Penyair yang baik adalah penulis esai yang baik!” Ini bukan konon! Tetapi, begitulah keyakinan Sapardi Djoko Damono, salah seorang penyair terkemuka kita yang hingga kini masih terus berkarya. Maka, kita dapat melihat, esai-esai yang ditulis Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri atau Goenawan Mohamad—

Puisi Alam: Membangun Mitos Baru (Bagian Kedua)

Maman S. Mahayana
http://riaupos.co

KESADARAN penyair bahwa ia menempatkan puisi sebagai fakta, sebagai realitas, menuntutnya pada pemahaman, bahwa ia mesti berjuang membangun puisinya tidak sebatas mengangkat puisi alam atau mantra sebagaimana adanya, tidak juga sekadar menawarkan bentuk tranformasi atau usaha melakukan revitalisasi.

Puisi Alam: Membangun Mitos Baru (Bagian Pertama)

Maman S Mahayana
http://riaupos.co

JAGAT Nusantara adalah kisah eksotisme manusia alam. Kebersatuan manusia Nusantara dengan alam itulah yang lalu menghasilkan kebudayaan, melahirkan kesenian, menciptakan puisi! Sebelum bangsa-bangsa asing datang ke Nusantara memperkenalkan kebudayaan mereka dengan segala sistem kepercayaannya,

PEMBENARAN DAN TAMPARAN

Sofyan RH. Zaid *
triknews.net

Jauh sebelum “Sastra(wan) Generasi Facebook” karya Maman S Mahayana (Kompas, 22/04/2017) yang menggempa(r)kan itu, saya pribadi tidak pernah share puisi di facebook. Kalau pun share puisi, pastilah puisi yang sudah dimuat media massa -baik cetak maupun online- beserta sumber dan edisi pemuatannya. Saya menjadikan dan menempatkan facebook sebagai media sosial untuk sosialisasi atau sebagai ‘tangan kedua’ setelah media massa dalam penyebaran karya. Barangkali orang-orang menganggapnya sebagai penguatan eksistensi, saya pribadi menganggapnya sebagai berikut:

Martabat Sastra(wan) Facebook

Zulfaisal Putera
Banjarmasin Post, 30 April 2017

Apa yang salah dengan karya sastra dan sastrawan di Facebook (Fb) ? Apa karena Fb adalah media yang bebas bagi siapa pun untuk menampilkan karya sastranya sehingga dianggap tidak memiliki ukuran kualitas yang jelas? Apa juga karena Fb sebagai media yang gratis sehingga karya sastra apa pun yang ditampilkan dianggap jadi takbernilai? Atau, apa karena Fb takmempunyai redaksi dan kurator sehingga karya sastra yang ditampilkan tidak selektif?