Posted by PuJa on February 28, 2011
Wawancara dengan Mardi Luhung Han Gagas http://pawonsastra.blogspot.com/ Saya pertama kali mengenal nama Mardi Luhung -seingat saya- di lembar puisi di koran nasional. Seingat saya dua kali muncul. Nama itu lalu mengambang di kepala saya. Hingga suatu ketika saya menemukan nama itu lagi di lembar cerpen koran nasional yang lain. Karena cerpen adalah bidang penulisan yang [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on October 29, 2010
Mardi Luhung Koran Tempo, 11 Juli 2010 I AKU dilahirkan di bulan Maret. Sekian puluh tahun yang lalu. Tepat ketika negeriku mengalami hari-hari berdarah. Hari-hari di mana kawan dan lawan cuma saling tuding: “Ini kawan, itu lawan, dia aman, kau tidak!” Dan malamnya, yang dituding sebagai lawan pun dijemput ramai-ramai. Diciduk, istilah pastinya. Lalu paginya, [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on August 2, 2010
ULANGAN BAHTERA Seperti firman, dia membuat bahtera di puncak bukit. Dan memasukkan bekal serta memilih setiap yang berpasangan dengan tenang. Sambil diajar menghitung. Dan cara menghadapi laut. Laut yang akan menenggelamkan bukit tanpa ampun. “Tapi, apa benar laut bisa menenggelamkan bukit?”
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on July 17, 2010
Kucing Beling Mesin jahit di atas meja. Meja di atas usungan. Usungan di atas selusin pundak. Dan di mesin jahit itu dia menjahit tubuhku yang telah digunting dan dimal. Setelah dibentang seperti 7 meter kafan. Dan ditaburi minyak serimpi. Minyak si penari yang telah membuat usia menyingkap kerahasiaannya. Membiarkan risik tertabur pada yang tak pernah [...]
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on July 9, 2010
PENDALUNGAN Di genting aku tertidur dan bersiap menantimu. Tertidur seperti mayat yang matanya terbuka. Terpulas warna samar sampai gelap pekat. Di udara yang tipis, benang itu terentang. Lurus dan lenyap di ketinggian. Lewat benang itulah kau akan tiba padaku. Mungkin memelukku.
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on July 8, 2010
KUBUR PANJANG Dalam usianya yang ke-700, dia kembali bangkit dari kuburnya. Berjalan ke pantai dan pergi mencari sore. Sambil sesekali mengingati tubuhnya yang limbung. Lewat perseteruan ujung parang. Dan kesetiaan untuk tetap menyimpan rahasia. Yang telah dititipkan guru. Saat seluruh bandar yang dipijak masih seperti lembaran lontar yang kosong. Yang bolong.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
KAMPUNG KUNING Saat menulis buku itu dia kehabisan bahan. Maka dengusnya: “Aku minta bahan anak-anak, kenduri, pedagang tikar, perantau dan para jawara yang menumpang kereta kelinci!” Tapi, kau mau meminta pada siapa? Barangkali pada dermaga, atau pada para tekong yang selalu menawarkan kreditnya. Juga pada pelancong yang menyukai ibu tua, gua onik, bumbung aren, kenong [...]
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on July 7, 2010
PACINAN Hanya ada lanskap: sebuah warung rujak. Pesanggrahan yang disanggah pilar kokoh. Pintu-pintunya terkunci. Gudang beras apak. Jajaran beringin. Dan kengerian yang kerap timbul ketika bulan purnama melintas. Selebihnya: tak ada jisim. Tak ada kuncir dipotong. Dan tak ada sepasang kupu-kupu yang selalu terbang di atas bong. Kupu-kupu yang bertelur di kitab yang dilisankan di [...]
Filed under: Sajak