Tag Archives: Marhalim Zaini

Membaca Marhalim, Membaca Melayu

Sapardi Djoko Damono *
http://www.riaupos.co

/1/
Melayu ternyata dongeng, setidaknya demikian yang saya baca dari sejumlah sajak Marhalim. “Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu,” katanya dalam sebuah sajak – Melayu adalah dongeng tentang orang terkutuk, orang yang disebat dengan rotan: “ohoi, jangan sebat aku dengan rotanmu!/ jangan kutuk aku jadi melayu!”

Jalan Lengang Korrie

Marhalim Zaini
riaupos.co

“Tualang panjang ini Semakin jauh semakin lengang Langkah pun lelah menapak juang..” MUNGKIN, ia memang lelah. Menulis 357 buku itu, energinya besar sekali. Tak pula satu-dua genre, tapi (mungkin) semua genre ia tulis. Apalagi, rupanya, dunia yang ia tekuni ini, dunia yang memang lengang. Bahkan setelah ia menulis ratusan buku itu, pun setelah ia ternama, setelah semakin jauh ia tapaki tualang panjang itu, malah ia semakin disungkup “lengang”.

Puisi Dunia, Sastra Terjemahan

Marhalim Zaini
riaupos.co

UNESCO, menetapkan Word Poetry Day pada tanggal 21 Maret. Jika penetapan itu, penanda ingatan, untuk petanda bagi sebuah momentum kelahiran, kita (penyair dan bukan penyair) mestinya bahagia. Sama bahagianya ketika Hari Puisi Indonesia dideklarasikan di Riau tahun lalu, diperingati setiap tanggal 26 Juli (mengacu hari kelahiran Chairil Anwar). Sama bahagianya juga, saya kira, ketika Taufiq Ismail (kalau tak salah 24 Maret ini) memaklumatkan Hari Sastra Indonesia, jatuh pada tanggal 3 Juli, yang merujuk pada hari lahirnya sastrawan Abdoel Moeis.

Sastra Profetik, Tradisi Melayu

Marhalim Zaini
riaupos.co

DUA tokoh sastra Indonesia yang agaknya identik dengan sebutan “sastra profetik” adalah Kuntowijoyo dan Abdul Hadi WM. Selain tampak dalam karya-karya mereka, sebuah tulisan Kunto berjudul “Maklumat Sastra Profetik (Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra)” dimuat majalah Horison, 2005, bisa menguatkan itu. Sementara Abdul Hadi WM, dapat kita baca dalam “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” (Jurnal Kebudayaan Ulumul Quran, Agustus, 1998). Ini telaah kritis Abdul ihwal perkembangan sastra di tahun 1970-an dan 1980-an, terkait kesadaran penulis untuk menjadikan “tradisi” sebagai “sumber” proses kreatif penciptaan mereka, terutama tentang semangat untuk kembali ke “puitika Timur.”

Mitos Narkissos

Marhalim Zaini
Riau Pos, 16 Juni 2013

“What first inspired a bard of old to sing
Narcissus pining o’er the untainted spring?” (John Keats)

Penyair Inggris, John Keats, adalah salah seorang seniman yang terinspirasi oleh tokoh mitos Yunani Kuno, Narkissos, atau yang kerap kita dengar dalam bahasa Latin, Narcissus. Dua baris puisi di atas adalah cuplikan dari puisi panjangnya berjudul I Stood Tip-Toe on Top of a Hill. Semua orang, mungkin tahu kisah ini.