Haiku dan Kematian

Mario F. Lawi *
Pos Kupang, 8 Jan 2015

PAYA tua beradu cendera/Tersingkir, sunyi./Katak terjun, plung. Demikian salah satu terjemahan Amir Hamzah atas haiku yang diciptakan Matsuo Basho (1644-1694) pada tahun 1686 dalam kumpulan karya terjemahannya Setanggi Timur (1939). Tujuh tahun setelah mengumumkan Setanggi Timur, Amir Hamzah tewas dibunuh dalam sebuah tragedi di kesultanan Langkat. Dalam sebuah esai berjudul “Haiku” (Kompas, 16 Oktober 2005), Hasif Amini mengutip sebuah terjemahan atas haiku tersebut menjadi seperti ini: Kolam tua/Seekor katak terjun/Plung. Continue reading “Haiku dan Kematian”

Ciri Khas Bercerita dan Lokalitas Latar

Amanche Franck, Mario F. Lawi
Pos Kupang, 3 Nov 2010

SEBAGAI penulis pemula yang sering mengisi kolom imajinasi Pos Kupang, kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kemauan Saudara Yohanes Sehandi untuk memperhatikan keberadaan kami di tengah minimnya apresiasi akan karya-karya sastra koran NTT lewat kedua opininya (Membaca Cerpen Pos Kupang, PK 1/7/2010) dan (Mencari Latar NTT dalam Cerpen PK, 21/10/2010). Continue reading “Ciri Khas Bercerita dan Lokalitas Latar”