Tag Archives: Martin Aleida

Antara Romo dan Sulastomo

Martin Aleida*
http://boemipoetra.wordpress.com/

“Dengan minta maaf kita akan dibebaskan dari sisa kebencian dan dendam warisan pemerintahan Soeharto,” demikian seruan Franz Magnis-Suseno SJ dalam mendukung rencana Presiden SBY untuk meminta maaf kepada korban pasca-G30S (Kompas, 24 Maret 2012). “Permintaan maaf akan membebaskan hati kita juga.” Jiwa bergetar dibuatnya.

Tanpa Pelayat dan Mawar Duka

Martin Aleida
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Ke mana pun dia pergi, di benaknya terbayang sebuah lubang ancaman. Begitu besar dan menakutkan, siap menelannya, menyusul tumbangnya raja tiranis yang berkuasa lebih dari tiga puluh tahun. Dia sadar, di kalangan teman-teman, dia tak lebih dari seonggok daging yang hanya pantas untuk dirajam. Sekalipun begitu, kalau mati, dia menginginkan tempat yang pas untuk jasadnya.

Tiada Darah di Lamalera

Martin Aleida
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Gigil laut utara menggiring kami kemari, ke Laut Sawu yang hangat dan biru begini. Langit begitu rendah. Seperti hendak rebah. Lengkungnya sesekali disaput semburan air yang tegak lurus meniti dalam hembusan napas paru-paru paus pembunuh. Orang-orang yang mendiami pulau kecil di sini menyebut mereka seguni. Sementara aku dan kaumku, mereka beri nama koteklema.

Ompung dan Si Pematung

Martin Aleida
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Sembilan puluh satu dia sekarang. Yang dia rencanakan untuk hidupnya, semua sudah tercapai. Yang tak pernah dia bayangkan pun malah sudah dia nikmati. Sebuah kuburan sudah dia persiapkan di atas bukit. Dan dia membayangkan, patungnya, patung setengah badan, akan diletakkan hati-hati di atas penampang marmer Italia yang dikirimkan anaknya dari Turino. Patung itu akan ditempatkan hanya selangkah dari gerbang kuburannya.

Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian

Martin Aleida
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Sudah enam puluh tahun hariara itu tegak di pekarangan belakang sekolah itu. Walau usia sudah mengelupas kulit batangnya, namun dia tetaplah yang paling menjulang di antara pepohonan yang ada di sekeliling.

Di ujung akarnya yang menjentang di permukaan tanah, dengan bersila beralaskan tikar pandan, duduklah Kartika Suryani sejak beberapa saat yang lalu.