Tag Archives: Mashuri

Memetakan Sastra Jawa

Mashuri*
Seputar Indonesia, 20 Juli 2008

DILIHAT dari capaian estetik dan genre, sastra Jawa bisa disejajarkan dengan sastra dunia.Itu bisa dilihat dari karya Jawa Kuno hingga capaian Ronggowarsito. Namun, seiring laju waktu, ternyata sastra Jawa “terjun bebas”.

Nilai estetikanya tak lagi bisa dijadikan patokan, ragam genre yang diusungnya pun terkesan stagnan. Pertanyaannya, apa penyebab mendasar dari kemerosotan ini?

Puisi, Sejarah, Santet *

Sebentuk ?Surat Kreatif? kepada Fatah Yasin Noor, Penulis Kumpulan Puisi Rajegwesi
Mashuri **

Sejarah adalah mimpi buruk (James Joyce)

Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat.
Mungkin kita belum pernah bersua, namun dalam kesempatan ini aku berikhtiar bersua denganmu lewat puisi-puisimu. Siapa tahu aku dan dirimu bertemu atau berpapasan di teks-teks puisimu, dan pertemuan itu bisa aku untai menjadi buah pikiranku. Jika aku tak bisa menemuimu di sana, aku akan merangkum kealpaan itu dalam praduga yang berlatar pada sosio-kultur yang melahirkan teks-teks puisimu, juga sosiokultur yang mematri nilai-nilai dan kearifan ke jiwamu.

Sajak-Sajak Mashuri

http://www.jawapos.co.id/
Berguru pada Hujan

tidakkah kau tahu, betapa rintik itu ‘lah menikam dadaku
sebentuk jarum yang runcing, dingin
menggigilkan segala dedahan, dedaun, rimbun tubuhku
hingga segala seakan hancur
dan tak terkenali kembali, lebur
tapi aku masih ingin menyapamu dengan sederhana
seperti dahi pada lantai, seperti matahari pada bumi
seperti telapak kaki pada tanah basah…

Sajak-Sajak Mashuri

http://www.lampungpost.com/
Estri Mustakaweni

seperti musim, angin selalu berkutat antara pantat
dan khianat
lalu cuaca berkejaran di reranting, seperti kutilang
mengekalkan gigil dalam kicauan
lalu menepikan segala dusta
dengan kaca
menjelma montase luka
di gereja

Sastra Jawa dan Persoalan Estetika

Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/

Peristiwa yang menyerupai Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir yang diselenggarakan Yayasan Arena di Aula Universitas Parahyangan Bandung pada 8 September 1974 kembali terjadi. Kali ini, terjadi di Ruang Sawunggaling, Taman Budaya Jawa Timur pada tanggal 30 Agustus 2002, yang dilakukan oleh sejumlah sastrawan Jawa. Tetapi, terdapat perbedaaan mendasar di antara kedua pengadilan itu.