Tag Archives: M.D. Atmaja

Eksotisme Tubuh Perempuan Telanjang Adalah Guru

M.D. Atmaja

Menghadapi tumpukan bahan yang disediakan alam semesta, membawa saya pada perundingan. Berkompromi dengan diri sendiri untuk menemukan teknik dan juga solusi dalam usaha menikmati hidup. Banyak dari kita, berhadapan dengan simpang jalan dan kebingungan. Di satu sisi menawarkan gemerlap kenikmatan dan sisi lain menawarkan pemahaman mengenai hakekat. Cara mana yang akan ditempuh menentukan jalan dan gayanya.

Benar, Proklamasi 1945 Hanyalah Sandiwara?*

M.D. Atmaja

Konon, hidup seperti sebuah permainan dimana manusia dituntut bergerak di dalamnya. Permainan yang membawa kita untuk masuk ke dalam berbagai keadaan, kadang menguntungkan dan juga terkadang sangat memojokkan sampai membuat kita menangis tersedu, atau marah dalam kekecewaan hebat. Namun, saya hanya bisa menghela napas ketika menghadapi kenyataan lain, kenyataan kolektif yang sungguh menyakitkan. Sudah enam puluh lima tahun, kita berbangga dengan perjuangan kemerdekaan sampai pada puncak revolusi terindah itu, Soekarno-Hatta mewakili rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan bangsa.

Sang Pemerkosa

M.D. Atmaja

Pagi itu, langit cerah membelai kemuning batang padi yang merunduk. Perkasa merengkuh bumi setelah selesai diberangkus kabut. Manik-manik embun berkilauan, menghiasi pandangan letih menatap hari yang semakin membeban berat. Ah, pagi ini terlalu indah untuk merenungi kesialan nasib di hari kemarin, ucapku pelan.

tuhan Yang Membunuhku!

M.D. Atmaja

Sekejap dalam pandangan, menyadari diri berada di tepian punggung tebing. Pandanganku jauh, menembus cakrawala. Pengharapan dan mimpiku tersangkut di sana. Mengambang dan ketika aku mendekati, justru seolah menjauh. Jauh lagi, seperti aku tidak bergerak ke mana pun. Jarak terentang dari kaki berpijak dan langit gantungan mimpi.

Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (II)

M.D. Atmaja

Serat Centhini (yang dapat dikatakan sebagai) adalah kitab masyarakat Jawa di dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di dalam serat Centhini yang ditulis pada tahun 1815 tersebut, merupakan perpaduan dari tiga pujangga keraton Surakarta, yaitu Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan oleh Ki Ngabehi Sastradipura, yang merupakan gambaran dari kehidupan dari masyarakat Jawa di dalam menjalani kehidupan.