Tag Archives: Mihar Harahap

Menguak Kritik atau Apresiasi Sastra

Mihar Harahap *
Harian Analisa, 22 Maret 2014

Sebenarnya Budi Hatees (BH) sedang mengesai H. B. Jassin dalam tulisan “Kritik Sastra atau Apresiasi Sastra”(Analisa, 16 Maret 2014). Entah mengapa, kemudian mencatut nama Mihar Harahap (MH) dengan mengatakan kritik MH bukan kritik, tetapi esai. Kalau benar kritik saya adalah esai, lalu mengapa mencatut nama saya ketika sedang mengesai H. B. Jassin, kritikus sastra Indonesia. Ini namanya mencari gara-gara.

Menuhankan Teori Sastra dan Pencitraan Budaya

Mihar Harahap
analisadaily.com

Menarik ceramah ilmiah Prof.Dr. Jan van der Putten, Guru Besar Sastra dan Kebudayaan Austronesia Universitas Hamburg Jerman, di UNIMED, baru-baru ini. Di hadapan budayawan, sastrawan, sarjanawan berbagai perguruan tinggi di Medan dan mahasiswa, dia urai “Tersingkirnya Studi Bahasa dan Karya Sastra Indonesia di Luar Negeri” (Cermin Kegagalan Pemerintah Indonesia? Bagaimana Pemerintah Baru Seharusnya Berbuat). Sayang, judul menarik tak semenarik seminarnya.

Tebekule, Konsep Kritik Sastra

Mihar Harahap *
analisadaily.com

Pernah orang bertanya, 1). mengapa saya memilih kritik, 2). apa landasan teorinya, 3). metode dan langkah apa yang saya gunakan dalam mengeritik karya sastra. Kebetulan, ada pertanyaan yang riskan untuk dijawab. Mengingat, 1). ada hubungan dengan pembahasan karya, 2). masih meliputi kegiatan apresiasi sastra, 3). klaim ‘orang’ di media tentang kritik saya, maka saya merasa perlu memberikan penjelasan.

Kita Perlu Hari Bahasa Indonesia

Mihar Harahap *
Jurnal Nasional, 7 April 2013

HARI Puisi Indonesia (HPI) pada 15 November 2012 di Pekan Baru sudah dideklarasikan Sutadji Calzoum Bachri dan kawan-kawan dari berbagai daerah. Acara itu dihadiri Guburnur Riau, Rusli Zainal. Tak lama, pada 24 Maret 2013 di Bukit Tinggi dimaklumatkan pula Hari Sastra Indonesia (HSI) atas prakarsa Taufiq Ismail dan kawan-kawan, di antaranya turut menghadiri HPI. Acara ini disahkan Wamendikbud, Wiendu Nuryanti. Sementara itu, Wowok Hesti Prabowo, juga mendeklarasikan HSI di Solo.

Kemameleda, Karya Wahyu Wiji Astuti

Mihar Harahap
http://www.analisadaily.com/

Terus terang, saya mengenal karya Wahyu Wiji Astuti (disingkat WWA) baru ini. Tatkala, komunitas Omong-Omong Sastra membuat Buku Puisi (antologi bersama) dan Buku Cerpen (antologi bersama). Kebetulan saya dipercaya menjadi editor khusus menulis Kata Pengantar kedua buku itu. Dari puluhan pemuisi, pecerpen serta karyanya, terbacalah nama WWA yang mengirimkan puisi dan cerpennya. Dalam Kata Pengantar itu, saya katakan, WWA adalah penyair dan cerpenis masa depan Indonesia.