MEMBACA PENELITIAN MELALUI NOVEL

Misbahus Surur *
Jawa Pos, 22 Jan 2017

Kalamata adalah jenis novel yang dikerjakan secara “tidak biasa”. Berkisah tentang pengalaman Made (mirip nama penulisnya), saat diminta sahabatnya, Irana, menuliskan biografi perempuan tokoh seni sekaa dalang, Ni Rumyig. Penulisan biografi ini tak mudah dilakukan, tersebab si tokoh—yang sejarah hidupnya hendak ditulis—disambangi demensia (jenis penyakit gangguan ingatan). Continue reading “MEMBACA PENELITIAN MELALUI NOVEL”

Santri

Misbahus Surur

Ada dua model belajar di pondok selama yang saya alami dahulu. Seingat saya dan yang paling terkesan kala itu adalah kentalnya hafalan di berbagai mata pelajaran yang nyaris menyiksa, dan kajian kitab dari berbagai wacana pengetahuan agama dengan teknik memberi syarh menggunakan huruf Pegon alias makna gandhul dengan bahasa Jawa. Continue reading “Santri”

Berkebudayaan Melawan ala Nurani

(Semacam catatan pendamping untuk buku terbaru Nurani Soyomukti)
Misbahus Surur *

“Kita kalah, Ma. Kita telah melawan, Nak, Nyo,
sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
(Pramudya Ananta Toer via Ontosoroh, di penghujung Bumi Manusia)

Seorang yang mendapati ”keinsyafan bathin”-nya sebagai hayawanun natiq kadang memang bermula dari proses panjang dialektika dirinya dengan –untuk meminjam bahasa yang kerap muncul dari mulut penulis asli Trenggalek, yang kumpulan esainya segera akan kita baca ini-, berbagai ”kontradiksi” alam juga realitas sosial di sekitarnya. Continue reading “Berkebudayaan Melawan ala Nurani”

Dina, Emily, Puisi Sepi

Misbahus Surur *
http://www.lampungpost.com/

Seorang perempuan belia kelahiran Lampung telah membuktikan diri sebagai penyair matang, setidaknya dari terbitnya dua buah buku puisi penting: Biografi Kehilangan (2006) dan Hati yang Patah Berjalan(2009).

MEMBACA puisi-puisi penyair ini, dengan perjalanan ingatan dan mungkin juga masa lampaunya yang muram, menyiratkan betapa setia dan tekun ia menakik rasa, untuk menukik ke larat kata. Atau bisa sebaliknya. Continue reading “Dina, Emily, Puisi Sepi”