Tag Archives: Muhammad Iqbal

Puisi Sir Muhammad Iqbal: Parlemen Setan

muhsawaluddin.blogspot.co.id

Setan:

Jin-jin mulai mempertunjukkan tari purba mereka
Lihat dunia yang penuh laknat ini, pasir dan debu harapan
Penghuni surga! Lihat Sang Pencipta
Yang menjadikan segala ini dengan firman Kun fayakun!
Sebentar lagi akan menghancurkannya. Otak cerlang
Eropa dan takhyul kerajaan duniawi ini,

Muhammad Iqbal; Sang Penyair Pembangun Identitas Islam

Khadijah
http://poetraboemi.wordpress.com

I. Pendahuluan

Perjalanan sejarah telah melahirkan banyak karya dibidang kesusastraan Islam. Khususnya puisi yang kaya dengan muatan makna yang dalam. Pembahasan mengenai syair-syair ini pun masih menjadi bahan yang menarik untuk dikaji dan dilakukan penelitian, bahkan telah banyak hasil penelitian yang membahas karya-karya tersebut.

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000. III*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”
Nurel Javissyarqi

Sesuatu yang esensial itulah yang mengubah suatu potensialitas menjadi aktualitas, baik dengan maupun tanpa perantaraan. (Ibnu Sina)

Selalu saja saat mengawali tulisan merasakan bergetar, untuk mengurangi debarannya saya mulai dengan kata pengantar demi meringankannya.

MUHAMMAD IQBAL: FILOSOF KEBANGKITAN TIMUR DAN DUNIA ISLAM

Abdul Hadi W.M.

Muhammad Iqbal — Sang Allama, begitu dia disebut di negerinya ? adalah seorang filosof sastrawan Timur paling terkemuka pada abad ke-20 M yang pernah dilahirkan dunia Islam. Gelar yang patut diberikan kepadanya ialah Filosof Kebangkitan Timur dan Islam. Judul buku-bukunya sendiri, yang di dalamnya gagasan-gagasan pembaharuannya dituangkan dalam ungkapan puisi yang indah dan inspiratif, selalu mengacu pada tema kebangkitan bangsa-bangsa Timur dan Islam.

REVOLUSI SUNYI SANG PENYAIR; IQBAL

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/2009/09/quiet-revolution-of-the-poet-muhammad-iqbal/

Ah, betapa gembira mereka yang hendak memuja apiku!
Tapi aku tak menghendaki telinga zaman sekarang
Akulah suara penyair dari dunia masa depan
Karena zamanku tak pernah memahami maksudku
(Iqbal, Rahasia Pribadi).

Di sana, saya melihat betapa malang seorang penyair yang seolah gagal menyuarakan hati nuraninya, dalam kancah usianya mereguk masa melahirkan karya-karya.