Tag Archives: Muhammad Subhan

Sulaiman Juned Motivator Penulis Muda

Muhammad Subhan
Harian Haluan 10 Feb 2009

Rumah itu tidak terlalu luas. Hanya punya sebuah ruang tamu dan dua kamar. Ukuran ruang tamu itu sekitar 2 x 3 meter. Namun siapa sangka, ruangan yang tidak besar itu menjadi tempat berkumpulnya para penulis muda Kota Padangpanjang. Hampir setiap waktu.

Membawa Sastra ke Sekolah

Muhammad Subhan
hariansinggalang.co.id 23 April 2013

Sejumlah karya besar mereka baik dalam bentuk puisi maupun prosa menjadi perbincangan dan rujukan banyak orang. Di sekolah tingkat rendah hingga perguruan tinggi, buku-buku sastrawan Minang menjadi bacaan wajib dan masuk dalam kurikulum pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sumatra Barat pun menjadi kiblat sastra Tanah Air.

Siapa Kritikus Sastra di Sumatera Barat?

Muhammad Subhan
http://kuflet.com 08/01/2012

Saat ini, setidaknya ada tiga koran harian di Padang yang menyediakan rubrik Seni dan Budaya dengan kolom cerpen “serius”nya. Saya katakan serius karena ketiga koran itu memang serius menampilkan cerpen-cerpen bernilai sastra. Koran-koran tersebut adalah harian Singalang, Padang Ekspres dan Haluan. Singgalang sepengetahuan saya sudah cukup lama memberi kesempatan kepada penulis-penulis Sumbar, khususnya kalangan muda untuk menulis cerpen-cerpen serius.

Irzen Hawer, Padangpanjang, dan Gerakan Menulis Sastra

Muhammad Subhan *)
http://www.kompasiana.com/muhammadsubhan

Kalaulah ada guru yang suka menebarkan “virus menulis” maka dialah Irzen Hawer namanya, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh, Tanahdatar, Sumatera Barat. Cobalah bayangkan, dalam waktu dua tahun (2009-2010) beliau telah merampungkan empat buah novel dengan ketebalan antara 250-300an halaman. Berarti dalam setahun dua novel ditulisnya. Ini luar biasa!

Mempersoalkan Poligami yang Tidak Pernah Terjadi

MENIMBANG NOVEL HATINYA TERTINGGAL DI GAZA
Muhammad Subhan
http://www.harianhaluan.com/

NOVEL Hatinya Tertinggal di Gaza (Grasindo, Jakarta, 2011) karya Sastri Bakry secara resmi dilun­curkan Rabu, 29 Juni 2011 di aula Museum Aditya­warman, Padang, dihadiri sekitar 50an peserta. Usai diluncurkan novel itu langsung didiskusikan dengan meng­hadirkan narasumber Basril Djabar (budayawan), Emma Yohanna (aktivis perempuan dan anggota DPD RI), serta Romi Zarman (kritikus). Dis­kusi dipandu Yusrizal KW serta dihadiri Sastri Bakry, pengarang novel Hatinya Ter­tinggal di Gaza.