Tag Archives: Muhidin M. Dahlan

Tiga Sekutu Setan

Muhidin M Dahlan

KAU orang muda Jawa-Arab yang pergi ke tanah haram. Mungkin mengikuti jejak spiritualitas para nabi. Atau berharap mendapatkan barakah kesempurnaan hidup dan kecemerlangan pandangan jiwa dalam menangkap lenggak-lenggok kehidupan. Seperti para nabi. Seperti orang-orang suci yang pernah lahir dan tertempa di sana. Kau ingin mengikuti jalan mereka.

Lima Penulis Memikat: dari Bandung Mawardi hingga Acep Iwan Saidi

Darwin
thephinisipress.blogspot.co.id

Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan
lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana,
komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar

(Samsudin Berlian, Kompas, 18/6/2010)

Jhumpa Lahiri: Mikrokultura dalam Sastra Pascakolonial

Muhidin M Dahlan

Judul Buku: Interpreter of Maladies
Penulis: Jhumpa Lahiri
Diterjemahkan: Penerbit Jalasutra dan akubaca (2002 dan 2003)
Tebal: 188 halaman

“Untuk menjadi seorang penulis profesional,
berusahalah menulis tentang renik di ranah apa pun, setiap hari.”
–Jhumpa Lahiri

Laut Kepustakaan Pada, Pada Sebuah Kapal Buku

Muhidin M Dahlan*
Kompas, 7 April 2007

Laut adalah penanda puncak peradaban Nusantara, sekaligus menabalkan negeri ini beroleh gelar unik dan satu-satunya di dunia, sebagaimana dirumuskan M Jamin dalam sefrase judul sajaknya: “Tanah Air”. Dari laut lalu muncul tradisi, pengetahuan, dan juga wibawa.

Hanya di laut meritokrasi bekerja secara alamiah dan apa adanya. Sebab, di laut, resultan antara navigasi (pengetahuan), keberanian (psike), dan keterampilan (pengalaman) berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi.

Rupa-Rupa Patung Seni Rupa yang Terkoyak

Muhidin M. Dahlan*
http://www.jawapos.com/

Jika Herbet Read mengatakan bahwa seni adalah kesatuan utuh yang serasi dari semua elemen estetis -garis, ruang, warna- yang terjalin dalam satu kesatuan utuh yang disebut bentuk, patung adalah bagian keluarga besar seni rupa. Patung adalah seni rupa berdimensi tiga yang dengan pandangan kedalaman (depth) -pinjam istilah Graham Collier- patung tak hanya bisa dipandang, disentuh, diraba, melainkan juga bisa dirasakan dan didengar gerak iramanya lewat lekuk cembungnya volume, hampa padatnya ruang, terang-gelapnya warna, halus-kasar, serta besar kecilnya skala (But Muchtar dalam Soedarso S.P. 1992: 23).