Tag Archives: Mujtahidin Billah

Puisi-Puisi Mujtahidin Billah

http://www.sajaksufi.wordpress.com/
Hangatnya Pertemuan

ketiadaanMu adalah keberadaanku
sepi karenaMu tlah ramaikan kesendirianku
jauhnya jarak tlah lapangkan hati saat mendekat

dan dapat kusaksikan
indahnya kesendirian
dalam dekapan gerimis dan hangatnya pertemuan

R. Ng. Ronggowarsito

Mujtahidin Billah
http://id-id.facebook.com/people/Mujtahidin-Billah/1405907116

Kolotindo
Salah satu cuplikan karya sastra tembang “Sinom” dalam “Serat Kalatido” bab.8, seperti di bawah ini :

Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi
melu edan ora tahan
yen tan melu anglakoni boya kaduman melik
kaliren wekasanipun
Dillalah karsaning Allah
Sakbeja-bejane wong kang lali
luwih beja kang eling lan waspada..

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://www.facebook.com/group.php?gid=91739295309

CINTA DAN KEINGINAN

Jika cinta itu bukan garis dari wilayah terlarang maka izinkanlah aku untuk menempuhnya meski sendiri terlalu muda usiaku tuk berbicara tentang cinta.

Tapai mengapa aku berani ?

Karana setiap manusia pasti merasakan mencintai dan di cintai oleh siapapun orangnya baik seorang gusti ataupun sahaya,

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://sajaksufi.wordpress.com/
Aku Mencintai Ikan-Ikan Dalam Tubuhku

Telah Kaubina kasus akuarium itu dalam tubuhku aku pun mencintai ikan-ikan dalam air waktu dalam usia karang dalam uban lumut dalam hijab zarah pasir dalam igau buih nafas ikan-ikanku tak mahu lagi mengunyah roti taburkan zikir asma?Mu hanya asma?Mu merasuk di balik sisik-sisik ikan cahaya menembus cahaya gelisah mencakar dinding-dinding kaca air apakah rupa apakah kata-kata apakah lemas ikan-ikan beradu di singgahsana air makrifat sesudah mengenal hakikat akulah itu bercermin dalam warna air tanpa perasingan Kau adalah rahsia kalbu di antara semua kalbu yang mabuk fana

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://sajaksufi.wordpress.com/
Pada Selembar Buku Sejarah Cinta Balqis

Cinta telah ditawan dengan pedang sukma, apa lagi yang kau lihat
pada kulit air yang mengaca dalam metafora istana itu? kau dengarkan
sayap burung hud hud menarik engsel pintu sejarah, usah pertikaikan
sangkar indah tanpa penghuni, kita teruskan saja hijrah pada negeri
yang sedia menunggunya rakyat jelata burung, negeri tanpa raja tanpa
takhta singgahsana, hanya sinar jiwa memancar setelah terbukanya
pintu istana agung, hanya Aku, tidak lagi namanya burung atau hud hud.