Kematian (Sejarah) Novel?

N Mursidi*
Seputar Indonesia, 27 Juli 2007

JAUH-JAUH hari,ketika novel Ayat- Ayat Cinta (AAC) sedang santer diberitakan akan diangkat—diadaptasi—ke layar lebar, saya sudah menduga kalau kelak film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu akan melampaui novelnya.

Ternyata dugaan itu tidak meleset. Setelah film AAC diluncurkan dan diputar di sejumlah gedung bioskop, apa yang saya ramalkan itu tidak salah. Tidak kurang empat juta penonton (dari segala umur) rela antre berdesak-desakan untuk sekadar menonton akting Fedi Nuril, Rianti Catwright, Saskia A Mecca, Carissa Putri, dan Melanie Putria. Continue reading “Kematian (Sejarah) Novel?”

Rekonsiliasi Konflik lewat Sastra

N. Mursidi
Lampung Post, 10 Juli 2011

PASCAPECAH konflik Sambas 1999, berbagai upaya membangun konstelasi rekonsiliasi bisa dikatakan belum berjalan baik. Hubungan sosial kelompok antaretnis yang pernah bersitegang (Madura-Melayu) masih meninggalkan segregasi kuat untuk saling curiga, khawatir, bahkan diliputi kebencian. Warga Madura hingga kini masih tidak bisa kembali ke Bumi Sambas. Rekonsiliasi seperti berhadapan dengan jurang kebekuan. Dengan kondisi memprihatinkan itu, berbagai program digagas dan dicanangkan untuk membuka ruang pertikaian itu mencair kembali. Continue reading “Rekonsiliasi Konflik lewat Sastra”

Jarak Estetik Sebuah Tafsir

N. Mursidi *
Seputar Indonesia, 30 Maret 2008

KESUKSESAN sebuah novel tak jarang mengantarkan novel itu ke layar lebar. Namun,tak ada jaminan novel laris itu sukses saat diadaptasi dalam film.

Tidak ada jaminan pasti! Sebab, novel menggambarkan kedetailan karakter dan cecapan makna yang nyaris tak bisa digantikan dengan visualisasi gambar. Sebaliknya, film memiliki logika dan aturan yang konon berbeda dengan novel. Maka, tak sedikit novel best seller yang difilmkan, akhirnya tidak bisa mengikuti jejak kesuksesan novel tersebut. Continue reading “Jarak Estetik Sebuah Tafsir”