Surat dari Website Sastra-Indonesia.com untuk JawaPos.com dan A.S. Laksana

Bismillah hirrahman nirrahim

Setelah membaca “Maklumat Pencabutan Konten Cerpen Bidadari Bunga Sepatu A.S Laksana” pada Website JawaPos.com 7 Juni 2021. Website Sastra-Indonesia.com (SI) sebelumnya telah memosting ulang cerpen tersebut bersama Pengakuan Terbuka!-nya A.S. Laksana dengan judul “Skandal : cerpen Bidadari Bunga Sepatu karya Afrilia dan Pengakuan Terbuka! A.S. Laksana” dan tetap menghidupkan link terkait ke Website JP (meski dari halaman paling akhir saja, no 9) pula pada facebook A.S. Laksana. Continue reading “Surat dari Website Sastra-Indonesia.com untuk JawaPos.com dan A.S. Laksana”

KRITIK SASTRA LEWAT TELUR DI UJUNG TANDUK

Jawaban untuk bagian C dari esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

Lagi-lagi perhatian Sofyan masih disibukkan gaya bahasa saya pada tataran judul, sub judul, judul bagian, sub judul bagian MMKI, dan tidak sama sekali pada apa yang sudah dibongkar, digagalkan, dibatalkan, dan dengan model apa pula menghabisi sampai akar-akar kejahiliyaan para senior, yang tidak mereka perhatikan, pelajari, mungkin dikira sekadar angin lalu. Continue reading “KRITIK SASTRA LEWAT TELUR DI UJUNG TANDUK”

KOMODO ATAUKAH KADAL?

Jawaban untuk bagian B dari esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi *

Untuk merawat sebuah ingatan, semacam hutang belum tuntas terbayar, dan waktunya cukup lama -satu tahun setengah dari tulisan jawaban bagian A (catatan facebook 23 Sep 2019), dan dari makalah yang tengah dikupas -dua tahun setengah lebih (3 Mei 2018). Ini serupa merawat tanaman hingga tumbuh mendewasa, jadilah teringat pohon langka yang saya ambil bijinya dari perbatasan Lamongan-Jombang yang kini meninggi menemui kematangan. Continue reading “KOMODO ATAUKAH KADAL?”

PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (V)

Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

V
Perpindahan bahasa Melayu (Kuno) dengan aksara Pallawa, Kawi, Jawa, Arab (pegon), hingga beraksara Latin di dataran subur Nusantara, tak lebih melalui pelbagai kebijakan para penguasa pada masa-masanya, dibalik kesuntukan para pustakawan, kaum penerjemah, kalangan pujangga dlsb. Continue reading “PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (V)”