Mendiagnosa Kritik Sastra Mutakhir

Hasnan Bachtiar *

“Don, adone djongkong, djongkong ijo godonge senthe. Ati-ati riko nompo omong, omong manis mesti katute.”

Potongan syair manis di atas didapat dari “kumpulan” lagu-lagu Osing yang bertajuk “Podho Nginang.” Penulis hanya terlupa siapa pengarang “asli” syair tersebut. Terjemahanan bebasnya kurang lebih, “Adonan kue djongkong, kue djongkong hijau itu terbalut daun senthe. Hati-hati kita semua menerima perkataan, perkataan manis pastilah membuai.” Perlu diketahui bahwa, artikulasi sastrawi ini memiliki makna yang terpaut erat dengan persoalan politik, verifikasi ilmiah dan kejujuran intelektual. Karena itulah, sepanjang tulisan ini secara lugas akan membahas tentang persoalan sastra dan kejujuran intelektual. Continue reading “Mendiagnosa Kritik Sastra Mutakhir”

Dengan Keluguannya, Novel Ini Menjadi Indah *

Nurel Javissyarqi **

Judul sangat tepat nan penuh daya pikat serta mampu mewakili keseluruhan isi kepala cerita; tampak ada dunia yang dipaksakan masuk, namun tak menjadikan ilustrasi pemerkosaan. Suatu kesengajaan yang melampaui batas, tapi masih bisa dianggap tahap kenormalan. Ketika Dunia Kecil berbicara; inilah alam raya lorong panjang penuh kejutan mengasyikkan, dengan sajian dan penyajiaan yang tak membosankan. Ada jenis kamus tebak-tebakan, kadang mengena dan sekali tempo diplesetkan menjadi gurauan kecil yang pasti tak mencederai saat jatuh kecelakaan dalam setengah sengaja, pun sesuatu yang mengsle dari engsel-nya, tetapi tetap berbentuk dunia alit pemikiran, sebab perhatian sangat, menentukan keadaan, kehadiran di luar realitas kebanyakan pembaca alam kehidupan. Continue reading “Dengan Keluguannya, Novel Ini Menjadi Indah *”