Tag Archives: Nurel Javissyarqi

Penyakit Banyak Bertanya, Malas Membaca, Enggan Berpikir *

Nurel Javissyarqi **

Bulan Mei lalu, saya sebagai salah satu narasumber pada bedah bukunya Dr. H.M. Suyudi, M.Ag yang bertitel “Rancang Bangun Pendidikan Islam,” dan pertengahan bulan di ujung tahun 2014 kini, diundang untuk mengisi acara pelatihan kepenulisan di kampus yang sama, Insuri Ponorogo. Waktu itu, dapat disebut saya bermukim di tlatah Reyog tepatnya Joresan, Darul Hikam, dan sekarang kembali ke bumi kelahiran Lamongan.

M. Paus (Membaca: “Pesan al-Qur’an untuk Sastrawan”) karya Aguk Irawan MN

Nurel Javissyarqi *

Sudah lama saya tidak menulis, Bismillah…
Tanggal 15 Juli 2012 saya membedah salah satu karyanya penulis ini (Penakluk Badai; novel biografi KH. Hasyim Asy’ari) tanpa makalah (lantaran informasi kepada saya mendadak, dan di hari itu juga mengisi acara di kampus STITAF, Siman, Sekaran, Lamongan, dengan makolah bertitel “Pendidikan; Prospek Pembentuk Karakter Budaya”, untunglah jadwal waktunya tidak bertabrakan; pagi hingga siangnya di Pesantren Sunan Drajad, siangnya sampai sore di kampus).

Sastra “Versi Iklan Kecap” Indonesia *

Nurel Javissyarqi

“Nun, demi kalam (pena) dan apa yang mereka tuliskan.” [QS. al Qalam (68) ayat 1].
Judul makalah ini mengambil olok-olokkannya kritikus Dami N. Toda kepada A. Teeuw dalam esainya “Mempertanyakan Sastra Itu Kembali” di bukunya “Apakah Sastra?” Cetakan Pertama, IndonesiaTera 2005. Yang juga ‘versi iklan kecap’ menurut saya!

Pendidikan; Prospek Pembentuk Karakter Budaya *

Nurel Javissyarqi **

Bismillahirrohmanirrohim, saya awali makalah ini. Sebelumnya maaf pengantarnya panjang, lantaran saya perlu sesuaikan tema yang sudah tertandai. Anggaplah sebab musababnya materi kan tersampaikan atau asbabul wurud, demi dapati pijakan realitas kata-kata nan terwedar.

Bagian 23: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(kupasan kedua dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi

Saya tidak tahu, wallahualam bissawab. Setelah diperjalankan dari Lamongan ke Jombang, Kediri, lalu berhenti di dataran bumi Reog Ponorogo, saya lanjutkan kini. Kenapa disebut ‘diperjalankan?’ Lantaran langkah kaki ini kehendaknya damai di tanah kelahiran, tapi air hayati menghempaskannya.

Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden?

(bagian XXII kupasan pertama dari paragraf lima dan enam)
Nurel Javissyarqi

Siapa saja bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi marah kepada orang yang tepat, dengan derajat kemarahan yang tepat, pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dengan cara yang tepat, ini tidak mudah. (Aristoteles, 384-322 SM).