PRESIDEN DAN SASTRA(WAN), DENGAN PRAM DI ANTARANYA

Hairus Salim
gusdurian.net

Apa pentingnya sastra(wan) bagi seorang presiden? Saya ingin menyegarkan kembali kenangan, bahwa dalam periodenya yang singkat sebagai presiden, Gus Dur sempat ‘mengunjungi’ tiga orang sastrawan terkemuka Indonesia. Sekali lagi ‘mengunjungi’ dan menemui ketiga sastrawan itu di rumah atau kediaman mereka. Gus Dur tentu bisa saja mengundang mereka ke istana negara dan mungkin mereka bersedia. Tapi ia lebih memilih untuk repot dengan mendatangi mereka secara langsung. Ketiga sastrawan yang ia sambangi itu adalah A. A. Navis, Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer. Baca selengkapnya “PRESIDEN DAN SASTRA(WAN), DENGAN PRAM DI ANTARANYA”

11 Fakta Mengenai Pramoedya Ananta Toer

Ary Cahya Utomo *
http://pelitaku.sabda.org

1. Pendidikan
Sebagai putra sulung tokoh Institut Boedi Oetomo, Pram kecil malah tidak begitu cemerlang dalam pelajaran di sekolahnya. Tiga kali tak naik kelas di Sekolah Dasar, membuat ayahnya menganggap dirinya sebagai anak bodoh. Akibatnya, setelah lulus Sekolah Dasar yang dijalaninya di bawah pengajaran keras ayahnya sendiri, sang ayah, Pak Mastoer, menolak mendaftarkannya ke MULO (setingkat SLTP). Baca selengkapnya “11 Fakta Mengenai Pramoedya Ananta Toer”

Lewat Islam, Hamka dan Pramoedya Ananta Toer pun Berdamai

Rakhmat Nur Hakim
Kompas.com 29/06/2016

Panasnya api perseteruan tak selamanya abadi. Kadangkala keyakinan yang sama mampu mendamaikannya. Seperti konflik yang terjadi di antara Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dan Pramoedya Ananta Toer.

Dua tokoh sastra kenamaan Indonesia itu bersebrangan paham. Namun -ada akhirnya, Islam jualah yang mendamaikan mereka. Baca selengkapnya “Lewat Islam, Hamka dan Pramoedya Ananta Toer pun Berdamai”