Posted by PuJa on April 20, 2011
Putu Wijaya* Kompas, 19 Des 2008 KONGRES Kebudayaan Indonesia 2008 diam-diam berlangsung di Bogor pada 10-12 Desember. Peristiwa yang dicanangkan berlangsung lima tahun sekali itu nyaris tanpa publikasi, baik sebelum maupun sesudahnya. Mungkin karena sudah begitu banyak hal sama-sama bergema sehingga kita semua sudah pekak dan kebal. Atau, peristiwa kebudayaan kembali terbukti bukan sesuatu yang [...]
Filed under: Canting, Esai
Posted by PuJa on March 7, 2011
Putu Wijaya http://putuwijaya.wordpress.com/ Bagaimana sebaiknya mengajarkan sastra? Itu bukan pertanyaan pertama yang harus dijawab oleh seorang guru sastra. Karena mula-mula yang harus dijawabnya adalah: apakah sastra itu? Kemudian, menyusul pertanyaan: apa yang dimaksudkan dengan mengajarkan? Dapatkah sastra diajarkan? Lalu siapa saja yang hendak dibelajarkannya pada sastra.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on March 2, 2011
Putu Wijaya http://putuwijaya.wordpress.com/tag/hiv/ “Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS,” kata Ami memberikan ceramah, di depan sejumlah ibu kampung. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya. Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar, khususnya di kalangan kaum homo. Penularannya [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on February 21, 2011
Wawancara oleh Yumelda Chaniago (Suara Pembaruan) melalui email. http://putuwijaya.wordpress.com/ 1. Dalam list nominee kategori tata musik 4 di antaranya merupakan musisi yg telah dikenal, hanya satu yaitu Bobby Surjadi yg kurang dikenal. Dgn komposisi spt itu terkesan juri ffi thn ini berusaha mencari jalan aman, agar tdk tertipu spt juri thn lalu dlm kasus ekskul, [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on February 12, 2011
Putu Wijaya http://putuwijaya.wordpress.com/ VERO: Mas Putu sejak kapan mengenal teater? PW:Di Tabanan, Bali, kota kelahiran saya ada 2 gedung bioskop. Nusantara dan Bali Teater. Nusantara kadang-kadang diubah jadi gedung pertunjukan amal untuk mencari dana. Yang dipertunjukan adalah sandiwara yang berlatar perjuangan revolusi. Latihannya kadang di dekat rumah saya, sehingga waktu kecil saya sudah mulai melihat [...]
Filed under: Canting, Proses Kreatif
Posted by PuJa on September 20, 2010
Putu Wijaya http://www.jawapos.com/ Pada hari raya Idul Fitri muncul tamu yang tak dikenal di rumahku. Aku pura-pura saja akrab, lalu menerimanya dengan ramah tamah. Terjadi percakapan. Mula-mula sangat seret, sebab aku sangat berhati-hati jangan sampai kedokku terbuka. Di samping itu, diam-diam aku berusaha keras untuk membongkar seluruh kenangan. Setiap bongkah aku bolak-balik, mencoba menyibak, siapa [...]
Filed under: Cerpen
Comments Off
Posted by PuJa on September 7, 2010
Putu Wijaya http://suaramerdeka.com/ AKU merayakan kemenangan Spanyol dengan membeli sebuah bola. Dengan bangga kuserahkan bola itu kepada anak-anak yang suka main bola merecoki jalanan sambil berpesan “Dulu Argentina, Italia, dan sekarang Spanyol, sempat kalah dalam pertandingan mereka yang pertama di Piala Dunia, tapi berkat ketangguhan dan perjuangan habis-habisan sebagai sebuah tim, akhirnya mereka menjadi juara [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on August 29, 2010
Putu Wijaya http://www.jawapos.co.id/ MENJELANG pertempuran terakhir yang menentukan, kami semua, para prajurit, bersiap. Mengumpulkan tenaga, mengerahkan jiwa-raga untuk mengakhiri habis-habisan benturan yang sudah berlangsung ratusan tahun ini. Aku duduk di batang pohon kelapa yang mati disambar geledek. Di pangkuanku senjata, sisa-sisa peluru, rasa sakit, dan lelah yang sudah tidak aku pedulikan lagi. Bila subuh pecah [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on June 28, 2010
Putu Wijaya http://www.jawapos.co.id/ (buat sahabatku Iskan) MEMANDANGI koran, melahap foto doktor termuda Indonesia I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi WS, 27 tahun, mataku tidak berkedip.”Cantik, badannya bagus, senyumnya mempesona,” gumanku memuji. ”Kalauaku masih muda, aku akan datang kepadamu dan langsung melamar.” Ami yang sejak tadi di belakangku nyeletuk, ”Begitu ya? Bagaimana kalau ditolak?”Aku mengangguk.
Filed under: Cerpen