INTEGRITAS DALAM SASTRA

Radhar Panca Dahana
shareforgoodpeople.blogspot.co.id

SEBAGAIMANA banyak bidang kehidupan lainnya, kehidupan dalam sastra juga memiliki romantiknya sendiri. Baik itu romantika yang berlangsung secara internal, di dalam diri atau lingkungan terbatas sastra itu sendiri. Maupun romantika yang berhubungan dengan kehidupan eksternal sastra, seperti kehidupan politik, sosial, ekonomi, hukum, dan bagian kebudayaan lainnya. Continue reading “INTEGRITAS DALAM SASTRA”

Kematian Pers

Radhar Panca Dahana
Media Indonesia, 9 Feb 2013

BILA kita memahami pers dalam pengertian tradisional, yang dipadati oleh cita-cita dan dipepati oleh idealisme dan nilai-nilai luhur, tentu saja akan mengalami kesulitan untuk menemukannya masa kini. Ini sebuah kenyataan yang, mau tidak mau, malu tidak malu, harus kita pahami dan terima. Continue reading “Kematian Pers”

Presiden Kebudayaan

Radhar Panca Dahana *
Gatra, 9 Juli 2009

Ir. Soekarno membantah tudingan para sejawatnya soal ide Pancasila yang ia cetuskan pada sidang BPUPKI, 1 Juni 1945, sebagai hasil analisis yang mentah dari data yang miskin. Ia menjelaskan dengan panjang lebar riwayat negeri ini, jauh sebelum Hindu (India) datang, riwayat negeri-negeri yang jauh, dengan cermat, detail, dan di luar kepala. Hingga kutipan ujar-ujar pemikir dan filsuf ternama di masa lalu hingga yang kiwari. Continue reading “Presiden Kebudayaan”

Mitos Indonesia

Radhar Panca Dahana
Kompas, 19 Mei 2010

SEJAK pertama kita beraktivitas hidup masa kini, sebenarnya ada kenyataan baru sadar atau tidak yang kita akui: Indonesia, negeri tempat kita bertaut dan mengacu diri, ternyata telah menjadi mitos.

Kenyataan baru telah menggeser kenyataan menjadi dunia abstrak, gelap, tak terukur, dan terpendam di dasar ingatan. Continue reading “Mitos Indonesia”

Salam dari Derrida, Jacques

Radhar Panca Dahana
http://majalah.tempointeraktif.com/

LELAKI tua berambut perak itu menunduk dan mengatupkan bibirnya. Dan ruang dua kali tiga meter dengan terang sekadarnya itu pun senyap, seolah mencoba mengakrabi suasana hati penghuninya. Aku duduk di hadapan, terpaku memandangnya. Begitu segera sepi menyergap lelaki itu. Mata-nya yang keras namun damai mengabarkan satu keteguhan, juga kesendirian. Ingatanku memanggil Hemingway, The Old Man and the Sea. “Monsieur Jacques, Je dois parti,” kataku sambil beranjak. Continue reading “Salam dari Derrida, Jacques”