Tag Archives: Ragdi F Daye

MELUPAKAN JAKARTA? TAWARAN SASTRA DARI (TEPI) SUMATRA

Ragdi F. Daye
ragdifdaye.multiply.com, 11 April 2007

Riau tak ubahnya replika Indonesia dalam soal keragaman etnis atau subkultur masyarakatnya, seperti juga Jakarta dan Yogya. Di daerah ini hidup masyarakat etnis Minangkabau, Jawa, Batak, Banjar, Bugis, Cina, dan lainnya yang memberi warna pluralitas atas dominasi budaya Melayu.

PUISI-PUISI YANG BERSELIMUT TEBAL

Ragdi F. Daye
harianhaluan.com, 27 Maret 2011

Sebagai karya sastra, puisi mengekspresikan pengalaman hidup manusia dan pemahaman­nya tentang kehidupan melalui bahasa yang estetis. Berbeda dengan prosa yang mempunyai peluang menyampaikan maksud dengan kapasitas ruang ekspresi yang cukup luas, puisi memadat­kan gagasan dalam tubuh yang ramping.

Melodrama Hamka dalam Raun Sebalik

Ragdi F. Daye *
http://www.harianhaluan.com/

Rinai Kabut Singgalang (RKS) karya Muhammad Subhan terbit pada Januari 2011 me­nye­marakkan dunia sastra Indonesia. Novel ini seperti gabungan antara novel semi­biografis dan novel islami, hanya saja menggunakan gaya bahasa klasik, seperti karya sastra Indonesia paruh pertama abad 20. Novel ini membawa ingatan saya pada gaya tutur roman Siti Nurbaya atau pun Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; gaya bahasa yang men­dayu-dayu seperti puisi dan cenderung menggunakan kali­mat inversi—predikat menda­hului subjek.

Kelopak Langit

Ragdi F. Daye
http://www.harianhaluan.com/

Baiklah, aku akan menelanjangi diriku di depanmu.Kau akan dengan leluasa melihat semua gurat sepi di pori-pori, semua jejak sesal yang membeku, dan mimpi-mimpi mati di epitel.Kau tak akan bisa pergi menghindar atau menutup mata dan telinga sebab aku telah memasang rantai yang membuat tubuhmu akan tetap duduk menyimak di kursi itu. Kedua tanganmu telah kuupayakan senyaman mungkin tetap berada di balik punggungmu.

Perlawanan Sastra yang Ambivalen

Ragdi F. Daye *
http://www.padang-today.com/

Sastra Indonesia pascakolonial adalah sastra yang gamang dan mengambang.

Sesungguhnya, kondisi dunia sastra Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini tampak begitu gamang. Di satu sisi, produksi teks yang berlimpah ruah dengan terus lahirnya penulis-penulis muda berbakat sangat menggembirakan. Di sisi lain, kuantitatif produksi teks tersebut justru melahirkan persoalan serius, seperti kualitas teks, keseragaman pengayaan, miskinnya penggalian tema eksplorasi teknik ungkap, hingga tren tematik sastra yang merayakan ketubuhan-seksualitas.