Tag Archives: Raudal Tanjung Banua

Kota Rawa

Raudal Tanjung Banua
Jawa Pos, 25 Mei 2014

DI dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak.

Romansa Perjalanan Esai Kecil Danau Toba Masih Menggoda…

Raudal Tanjung Banua
Bali Post, 23 Juni 2013

DALAM perjalanan ”membelah” Sumatera Utara dari timur ke barat (Medan-Barus), kita akan bertemu satu kawasan yang sedari dulu terus menggoda: Danau Toba! Itulah yang saya dapatkan dalam romansa perjalanan kali ini.

Drama Pramoedya

Raudal Tanjung Banua *
Riau Pos, 12 Mei 2013

PRAMOEDYA Ananta Toer (Blora, 6 Februari 1925-Jakarta, 30 April 2006) tersohor sebagai novelis kenamaan Indonesia. Di tanah air kita yang masih bermasalah dengan identitas, sebuah status tak jarang menenggelamkan status yang lain.

Tapanuli, Tepian yang Cantik…

Romansa Perjalanan Esai
Raudal Tanjung Banua
Bali Post, 21 April 2013

ANDA tentu pernah mendengar nama Tapanuli. Namun ini merujuk wilayah yang sangat luas di kawasan Sumatera Utara, tepatnya di pantai barat hingga ke perbatasan Danau Toba. Mulai dari Natal dan Sidempuan di selatan (berbatasan dengan Sumatera Barat), Sigolga dan Barus di utara (berbatasan dengan Aceh), sampai Tarutung dan Balige di pegunungan.

Membaca Tembang Tolak Bala (Beberapa Catatan Sekilas)

Raudal Tanjung Banua

Membaca novel Hans Gagas, Tembang Tolak Bala (LKiS Yogyakarta, Mei 2011) kita mendapatkan gambaran yang kaya tentang reog Ponorogo, tidak sekedar penampilannya yang atraktif dan indah, melainkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di “belakang panggung”—dan ini jauh lebih menantang.

Cerita Campur-Aduk dari Pamanku

Raudal Tanjung Banua
Koran Tempo, 12 Feb 2012

PAMANKU bernama Untung Sudah—nama dengan segala arti dan makna. Dia sendiri menceritakan perihal namanya ini dengan mencampur-adukkan cerita nenek dan ayahku yang pernah kudengar. Kata Nenek (tiga kali Al-Fatihah untuknya), ketika ia mengandung, suaminya meninggal karena sakit. Tak diketahui pasti apa penyakitnya. Ada yang bilang sakit kuning sebab mata kakek terlihat menguning sebelum ajal.