Posted by PuJa on May 4, 2012
Raudal Tanjung Banua Membaca novel Hans Gagas, Tembang Tolak Bala (LKiS Yogyakarta, Mei 2011) kita mendapatkan gambaran yang kaya tentang reog Ponorogo, tidak sekedar penampilannya yang atraktif dan indah, melainkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di “belakang panggung”—dan ini jauh lebih menantang.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on April 15, 2012
Raudal Tanjung Banua Koran Tempo, 12 Feb 2012 PAMANKU bernama Untung Sudah—nama dengan segala arti dan makna. Dia sendiri menceritakan perihal namanya ini dengan mencampur-adukkan cerita nenek dan ayahku yang pernah kudengar. Kata Nenek (tiga kali Al-Fatihah untuknya), ketika ia mengandung, suaminya meninggal karena sakit. Tak diketahui pasti apa penyakitnya. Ada yang bilang sakit kuning [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on February 8, 2012
Raudal Tanjung Banua http://www.lampungpost.com/ TAK ada pembunuhan di sini. Tak ada pembantaian. Semua mengalir mengikuti garis takdir. Tuhan memberi semua lebih dari yang diharapkan siapa pun, bahkan oleh si empunya nasib. Nasib? Tak seorang pun tahu jalan nasib.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on November 3, 2011
Raudal Tanjung Banua http://www.balipost.co.id/ CATATAN ini saya tulis dengan ingatan kepada sebuah buku karya seorang pemikir Bali, I.B. Agastya ”Di Kaki Pulau Bali”. Entah kenapa buku tipis penuh makna itu tiba-tiba melintas di benak saya, ketika saya mulai menapak Pulau Sulawesi. Barangkali karena buku tersebut mampu mengurai pentingnya sejumlah hal terkait ”kaki Pulau Bali”, mencakup [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on September 4, 2011
Raudal Tanjung Banua http://www.lampungpost.com/ AKU merantau, seolah semuanya telah menjadi lampau. Tapi tidak. Semuanya baru dimulai ketika ingatanku terasa bangkit kembali di sepanjang jalan yang kulalui. Telah aku seberangi selat dan kulewati kota-kota, dalam sebuah bus tua yang berderak sepanjang jalan, sepanjang siang dan malam. Meskipun dioper bus tiga kali, tetap bus tua juga yang [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on August 1, 2011
Raudal Tanjung Banua Lampung Post, 30 Juli 2011 OTONOMI daerah merupakan impian untuk meretas kehidupan sosial-politik yang lebih adil dan bermartabat. Tak kurang 30 tahun lamanya Indonesia pernah merasakan sumpeknya sistem sentralistik. Maka, dalam era reformasi sistem desentralisasi dianggap tepat mengatasi dampak-dampak yang memusat, mulai tak meratanya pembangunan, luputnya pengadaan infrastruktur penting suatu kawasan, kecilnya [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on June 3, 2011
Raudal Tanjung Banua http://www.harianhaluan.com/ Chairil Anwar, seorang penyair yang mati muda, tapi toh menyandang prediket yang amat prestesius: Sang Pelopor. Setidaknya, ini sedikit mengobati klangenan kita akan sosok dan pokok yang lahir dan dibesarkan oleh proses kreatifnya sendiri, bukan dari ranah politik yang lebih mengandalkan intuisi dan publisitas ala selebritis sebagaimana terlihat dalam kecenderungan kehidupan [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on May 8, 2011
Raudal Tanjung Banua http://www.lampungpost.com/ Tulisan ini mengusung sebuah pertanyaan retorik: Kenapa pemerintahan yang dikomandoi SBY-Boediono akhir-akhir ini selalu menuai sorotan? Sebut saja sorotan masyarakat atas ketidakpastian hukum Centurygate, harga kebutuhan pokok melambung, keamanan kian rawan, perdagangan bebas kian menyengsarakan, akrobatik penegakkan hukum, korupsi kian menjadi serta berkuasanya para mafia peradilan.
Filed under: Canting
Posted by PuJa on May 1, 2011
http://www.lampungpost.com/ Ke Pedalaman 1. arus yang lamban. jembatan kayu tua hitam batu bara teronggok di tongkang renta adalah susu perempuan negro tersesat di borneo seorang perempuan iban menatapnya iba
Filed under: Sajak