Filmisasi Karya Sastra

Raudal Tanjung Banua *
lampungpost.com

Diangkatnya novel laris ke layar lebar bukan fenomena baru. Dua dasawarsa lalu, novel-novel klasik sastra diangkat ke layar kaca:Siti Nurbaya (Marah Rusli) dan Sengsara Membawa Nikmat (Dt. Majoindo?). –lit

Pengangkatan karya sastra sedikit-banyak masih memperlihatkan hubungan “alamiah” film-sastra, setidaknya dari pilihan karya yang diangkat. Memang, aroma industri mulai tercium sejak dini. Hubungan pertama yang sangat alamiah dan tak terelakkan dalam proses filmisasi karya sastra tentu dalam hal skenario. Continue reading “Filmisasi Karya Sastra”

Ladang Terbakar

Raudal Tanjung Banua
kr.co.id

APA pun kata orang, keputusan Sombiang sudah bulat, tak bisa diganggu-gugat: mengajak istrinya, Lanik, tinggal di ladang. Sebuah pondok kayu bertiang tinggi beratap rumbia-ditisik batang rengsam-kukuh dengan batang kayu pelawan, selesai sudah dibuat. Ada hamparan sahang seluas mata memandang. Sementara pohon-pohon karet tua di lahan arah ke lembah-warisan orangtuanya-sengaja ditebang, sebagai gantinya, kini ratusan batang anak karet kembali ditanam: di tengahnya pondok itu tegak berjaga. Continue reading “Ladang Terbakar”

Minok

balipost.co.id

Raudal Tanjung Banua

Minok tertegak menahan isak. Ujung kaitan melayah di lantai, belum sempat ia singsingkan, ketika Agus — putra kecil semata wayangnya — kembali mengucapkan kata itu, ”Bu, besok Agus ikut menyeberang, mencari ayah…” Continue reading “Minok”

Teluk Hayat

Raudal Tanjung Banua
suaramerdeka.com

1.
INI sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak hanya bertenaga seekor kuda poni, dan pemandangan cantik ini tak satu pun kan menghalangi; tetapi pada hari-hari tertentu, tak pandang Kamis atau Minggu, ia bisa tak terduga, mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, Continue reading “Teluk Hayat”