Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000. III*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”
Nurel Javissyarqi

Sesuatu yang esensial itulah yang mengubah suatu potensialitas menjadi aktualitas, baik dengan maupun tanpa perantaraan. (Ibnu Sina)

Selalu saja saat mengawali tulisan merasakan bergetar, untuk mengurangi debarannya saya mulai dengan kata pengantar demi meringankannya. Baca selengkapnya “Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000. III*”

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000. II*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”
Nurel Javissyarqi

“A masterpiece always moves, by definition, in the manner of a ghost” (Jaques Derrida, Spectres of Marx).

Lumayan lama tak melanjutkan tulisan, terhitung setengah bulan lebih. Kini menginjak angka 17 nomor saya sukai, bilangannya sama bertanggal kemerdekaan Republik Indonesia tujuh belas, (Agustus 1945). Baca selengkapnya “Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000. II*”

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000.*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”
Nurel Javissyarqi

Awalnya masih menaruh pikiran positif. Di kepala seakan tertera kata-kata, “pasti pidatonya mbeneh, bukan awut-awutan,” nyata tebakan itu meleset. Pun ingin husnudzon, mungkin tak tahu sumber aslinya. Namun apakah mungkin, sastrawan terkenal yang banyak mendapati penghargaan, cuntel keilmuan? Baca selengkapnya “Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000.*”

Mengenang Wafatnya Pramoedya Ananta Toer 5 tahun

Surat-surat Pramoedya Ananta Toer dan Jendral Soeharto
Wandi Barboy Silaban *
http://www.kompasiana.com/wandibs

30 April 2006 di Karet, 5 tahun lalu tepatnya, kembali Indonesia berduka. Ya, di sana terbujurlah sang pengarang yang namanya beberapa kali dicalonkan meraih kandidat nobel di bidang kesusastraan dunia. Tapi, kandidat tinggallah kandidat. Hingga akhir hayatnya, nobel pun tak kunjung jatuh ke tangannya. Baca selengkapnya “Mengenang Wafatnya Pramoedya Ananta Toer 5 tahun”

Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia (“Literature and Medicine” – Sebuah Studi)

Katrin Bandel *
Kompas Cyber Media

SEKILAS pandang, sastra tampaknya tidak ada hubungannya dengan pengobatan atau dengan penyakit, dan bidang kedokteran (medicine) dan sastra (literature) jarang dihubungkan satu sama lain. Tetapi, paling tidak, dalam tradisi Barat, hubungan antarkedua bidang itu sebetulnya cukup erat. Beragam ide dan spekulasi seputar hubungan seni dengan penyakit dan pengobatan dapat kita temukan dalam pemikiran Barat sejak zaman Aristoteles; misalnya bahwa “jenius” atau bakat seni yang luar biasa merupakan sejenis kelainan jiwa (penyakit), bahwa pengalaman sakit dan penderitaan berguna atau perlu bagi seorang sastrawan (misalnya dalam pemikiran Goethe, juga Nietzsche), atau bahwa seni mempunyai potensi untuk menyembuhkan orang yang sakit. Baca selengkapnya “Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia (“Literature and Medicine” – Sebuah Studi)”

Seabad Natsir, Reaktualisasi (Kegagalan) Islam Politik

Firdaus Muhammad*
Kompas, 18 Juli 2008

BULAN ini, tepatnya tanggal 17, Mohammad Natsir (17 Juli 1908–5 Februari 1993) genap seabad (17 Juli 1908–17 Juli 2008). Seabad Natsir laiknya dijadikan momentum reaktualisasi jejak rekam perjuangan politiknya dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam pentas politik dan kekuasaan. Baca selengkapnya “Seabad Natsir, Reaktualisasi (Kegagalan) Islam Politik”