PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (V)

Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

V
Perpindahan bahasa Melayu (Kuno) dengan aksara Pallawa, Kawi, Jawa, Arab (pegon), hingga beraksara Latin di dataran subur Nusantara, tak lebih melalui pelbagai kebijakan para penguasa pada masa-masanya, dibalik kesuntukan para pustakawan, kaum penerjemah, kalangan pujangga dlsb. Continue reading “PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (V)”

PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (IV)

Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

IV
Leksikograf Indonesia, Wilfridus Josephus Sabarija Poerwadarminta pernah memakai nama samaran Ajirabas, Semplak, Sabarija. Salah satu tokoh sastra Indonesia yang ahli perkamusan bahasa Indonesia, Jawa, Kawi, dll. Dia hanya menulis satu puisi, tiga prosa, dua naskah drama, yang semuanya dimuat dalam majalah. Continue reading “PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (IV)”

PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (III)

Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

III
Edisi adalah bentuk buku yang diterbitkan, dikeluarkan, istilah saya merek. Dan kata “revolusi” mengabarkan perubahan sosial budaya yang berlangsung cepat menyangkut pepokok kehidupan. Maka “edisi revolusi” itu, sebentukan buku yang mengarah pada perubahan sosial, perombakan dasar demi mencapai kebutuhan yang diingini jaman; Continue reading “PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (III)”

PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (I-II)

Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

I
Selamat pagi Sastra Indonesia, KBBI online, Kamus W.J.S. Poerwadarminta, Hari Puisi Indonesia, MASTERA, Dewan Kesenian Riau. Pagi pula yang mengatakan “MMKI Ngawur.” Padahal bungkus plastik bukunya belum dibuka. Sakti kan? Namun bertindak tidak ilmiah. Tak lupa, pagi serta kepada pemateri yang belum memberi/mengirim makalahnya sampai acaranya kelewat jauh. Akhirnya, selamat pagi yang bungkam atas kritik. Continue reading “PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (I-II)”