Dead Poet Society*

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Puisi adalah sebuah tradisi. Ada kesepakatan publik tentang materi yang bisa menyandang identitas sebagai puisi. Bukan asal materi bisa disebut puisi, lebih jauh atau lebih lanjut, tidak setiap jalinan materi memungkinkan disebut puisi cerdas. Continue reading “Dead Poet Society*”

Manusia Tak Pernah Ada

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Setelah meledak, dan amat mendominasi khazanah puisi di sepanjang tahun 1980-an, sastra sufi seakan kehabisan daya pikat. Seperti bantal yang terapung di genangan banjir, sastra sufi gagal membaca arah tuju, gagal juga menampakkan dirinya sebagai entitas yang penting. Continue reading “Manusia Tak Pernah Ada”

Tidak Ada Sastra Religius

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Ada satu konsepsi tema dalam perbincangan sastra—sebuah kerja nyaris sia-sia: religiusitas sastra. Sejak jaman Hamzah Fansuri, Balai Pustaka, tahun 1970-an, hingga sekarang; diselenggarakan diskusi atau tulisan lepas yang menekankan adanya religiusitas dalam karya sastra. Dipelopori Abdul Hadi WM, aliran sastra sufi pun muncul. Mengapa konsepsi tema religi rekat pada perbincangan sastra? Apakah kontribusinya bagi tradisi sastra? Continue reading “Tidak Ada Sastra Religius”

Pencerahan Estetik Sastra Internet

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Apakah arti media bagi sastra. Sepintas lalu, media bukan penentu signifikan. Nur St. Iskandar menyebutkan, pendirian Balai Pustaka atau Volkslektuur (1908) yang menghadirkan majalah kebudayaan dengan rubrik sastra memunculkan tradisi sastra modern di tanah air. Majalah Pujangga Baru diterbitkan, sastra Indonesia pun memasuki estetika yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Dua tulisan Armin Pane, berjudul “Kesusastraan Baru” (1933), merupakan pembuktian otentik. Continue reading “Pencerahan Estetik Sastra Internet”

Sastra dari Bahasa Yang Rapuh

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Diam-diam, bahasa Indonesia menyimpan problem unik bagi sastra, mirip dongeng: problem kerapuhan. Sejak ditahbiskan sebagai bahasa nasional, terhitung sejak 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia makin hari semakin dewasa, dan megah. Selebihnya adalah kecemasan, kebimbangan, dan pergeseran tiada henti-henti. Penyair W. Haryanto, sarjana lulusan Sastra Indonesia Unair, ikut terlibat di dalamnya. Continue reading “Sastra dari Bahasa Yang Rapuh”