Tag Archives: Ridwan Munawwar

Mutiara Kehidupan Kaum ‘Ikan dalam Akuarium’

Ridwan Munawwar*
Lampung Post, 15 Okt 2006

The Regala 204 B, (Antologi Cerpen). Nera Andiyanti dkk. Kudus: Gapuradja, Agustus 2006. 116 halaman.

SELAMA ini keberadaan kaum marginal yang juga dikenal dengan sebutan kaum grassroot, rakyat jelata atau wong cilik, selalu menempati posisi subordinat yang tersisih dalam berbagai sepak-terjang aktivitas kolosal kebudayaan. Apalagi agenda-agenda struktural yang sifatnya resmi, formal dan “elite”. Padahal sesungguhnya, disadari atau tidak, berbagai potensi dan kontribusi kebudayaan bersumber dari mereka.

Alquran dan Hermeneutika Inklusif

Ridwan Munawwar*
http://www.jawapos.co.id/

NUZULUL Quran adalah hari di mana kalam Tuhan turun ke bumi melalui Nabi Muhammad yang berperan sebagai mediator. Sebuah proses yang ajaib; firman Tuhan yang gaib dan transenden menjelma ke dalam bentuk imanen, yakni teks yang berisi kalimat sakral dan memiliki nilai sastrawi yang amat tinggi.

Cita-cita Tionghoa Muslim Indonesia

Ridwan Munawwar
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

SEJARAH etnis Tionghoa di Indonesia adalah sejarah represi dan kekerasan. Sejarah mencatat, di Batavia pada 1740, terjadi pembantaian massal orang-orang Tionghoa oleh VOC yang menelan korban sekitar 10.000 jiwa. Pada masa Perang Jawa (1825-1830), terjadi pembunuhan orang-orang Tionghoa karena dicurigai sebagai pembawa sial yang mengakibatkan pasukan Diponegoro kalah oleh Belanda.

Politik Buku Pengantar

Ridwan Munawwar
http://www.jawapos.co.id/

SETIAP kali tangan saya memegang sebuah buku pengantar, setiap kali itu pula benak saya selalu menyadari betapa menulis buku pengantar bukanlah sebuah pekerjaan sederhana atau main-main. Menulis buku pengantar adalah memberikan atlas diskursus yang fundamental kepada publik, terutama kepada mereka yang baru memulai adventure pembacaannya di suatu belantara ilmu.

Kapitalisme dan Zaman yang Psikopatik

Ridwan Munawwar*
http://www.jawapos.com/

KITA hidup di tengah zaman yang psikopatik. Suatu kurun waktu saat ancaman penyakit jiwa selalu mengintai dan datang tak terduga. Sejarah kejiwaan manusia, tampaknya, bergerak seperti medan magnetik, lengkap dengan sisi positif dan negatifnya. Kecanggihan zaman yang membawakan dinamika positif dalam kejiwaan manusia ternyata di sisi lain yang berseberangan juga diimbangi oleh ledakan patologi; timbulnya negativitas dan anomali-anomali kejiwaan yang semakin menemukan bentuknya yang paling tak lazim, ekstrem, dan mengerikan.