Tag Archives: Rilda A. Oe. Taneko

Kambing

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

PASIEN itu berdiri mematung. Keraguan terlihat enggan meninggalkannya. Ia telah mengidap kanker selama dua tahun. Dan kambing itu satu-satunya harapan. Kambing itu berbulu cokelat, tidak gemuk dan tidak tua. Bahkan menurut Sarip, nama pasien itu, kambing itu terlalu muda.

Awan Hitam Menghadang di Depan

Rilda A.Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

Esok adalah boxing-day dan Ray sudah menyiapkan rencana. Pagi-pagi benar, ketika gelap masih melingkupi putih salju, ia akan membawa kantung tidurnya ke pusat kota. Ia akan menyiapkan setermos teh panas dan menyelipkannya di kantung sisi ranselnya. Ia akan bersepeda dari rumah sewanya dan menempati tempat pertama di depan antrian pintu swalayan Fenwick.

Gambar Mei

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

IA yang meramalkan kematian keluarganya. Pertama ia menggambar ayahnya dan adiknya, kemudian ibunya. Usianya masih empat belas saat itu. Entah mengapa, suatu pagi, seolah dikejar keperluan mendesak, ia mencari-cari pensil dan kertas. Lalu, di atas kertas itu, dengan sangat cepat dan tanpa kedipan mata, ia menggambar sebuah kapal. Kapal itu berlayar di atas lautan luas. Dari dek kapal itu, ayahnya jatuh ke laut.

Sahabat Lama

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

SEBUTLAH Fajri, ia sahabatku sejak kuliah dulu. Ketika aku pulang kampung, empat tahun yang lalu, ia tergeletak lemah di rumah sakit.

“Berlebihan,” sunggut Tante Min, ibunya Fajri.

Aku diam. Beringsut dari ujung tempat tidur ke arah Fajri. Membantunya membetulkan selang infus yang melibat di tiang gantungnya.

Lemari Buku Ayah

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

AYAH sibuk sekali sore itu. Berkali-kali ia keluar masuk rumah, mengambil peralatan yang ia butuhkan: gergaji, palu, paku, dan kayu. Lalu ia duduk di sebuah bangku kayu kecil yang biasa mbak pakai saat menggilas pakaian. Dengan bersemangat ayah menggergaji batang kayu dan berlembar tripleks, membiarkan serbuk kayu berhamburan di udara dan membuatku terbersin-bersin. Lalu ayah menyuruhku menjauh.