Roland Barthes dan Pembebasan Makna

Iwan Awaluddin Yusuf *
Newsletter Polysemia, Edisi 3/Tahun I, Juli 2006.

“Tidak ada pemahaman tunggal atas suatu teks”, “.. pemaknaan teks bersifat otonom merupakan inti dari kebebasan yang memberi tempat bagi siapa saja untuk bersuara”. Demikian aksioma yang sering mengemuka dalam diskusi mengenai “pembacaan” atas suatu pesan. Kehadiran konsep ini sendiri tidak dapat dilepaskan dari sumbangan pemikiran Roland Barthes, seorang intelektual yang pernah mengembara dalam alam pemikiran eksistensialis, marxis, strukturalis, hingga post-strukturalis Continue reading “Roland Barthes dan Pembebasan Makna”

Demitologisasi Sastra Mantra Sutardji

Hasnan Bachtiar *
http://kataitukata.wordpress.com/

Dewasa ini telah mengemuka suatu mitos sastra (Barthes). Para kritikus, seolah bahu-membahu dalam konsensus imajiner, mengimani suatu mazhab yang mutakhir. Sastrawan “mantra” menjadi imam bagi mayoritas umat: Sutardji Calzoum Bachri (SCB).

Bukan hal yang mengherankan, penisbatan ini tertuju kepada penyair masyhur itu. Pujangga yang hebat, memiliki puisi-puisi yang sangat baik dan sungguh sulit mencari cela pada anak-anak rohani yang telah tercipta dengan kualitas berkelas, kecuali oleh ketajaman kritikus tulen yang bernyali. Continue reading “Demitologisasi Sastra Mantra Sutardji”

Diana dan Roland Barthes

Bre Redana
kompas.com

Kalau kehidupan petani diasosiasikan dengan desa agraris di Jawa, agak sulit membayangkan seorang anak petani bernama Diana, sebagaimana terdengar dalam lirik lagu Koes Plus berjudul “Diana”.

Banyak orang barangkali masih ingat lirik lagu itu: “Di gunung tinggi kutemui/ Gadis cantik putri paman petani/ Cantik menarik menawan hati/ Diana namanya manja sekali…” Continue reading “Diana dan Roland Barthes”