Tag Archives: S Prasetyo Utomo

Sihir Tongkat

S Prasetyo Utomo
Suara Merdeka, 18 Maret 2012

LELAKI kecil, kurus, menyeret-nyeret tongkat berukir kepala burung. Di pipinya leleh air mata. Ia ingin memusnahkan tongkat itu. Ingin menceburkannya ke sungai. Biar hanyut ke laut. Baru saja Kakek mendera pantatnya dengan tongkat itu. Masih terasa pedih menyengat pada pantatnya. Nyeri. Meremuk tulang ekornya.

Kenangan Dini, Pencerahan Spiritualisme

S Prasetyo Utomo*
Kompas, 25 Maret 2007

Genre sastra kita sungguh kering dari penciptaan otobiografi yang berkadar literer. Kebanyakan otobiografi ditulis dengan kejutan politik, beranjak dari visi dan polemik kekuasaan. Beruntung kita memiliki Nh Dini yang selalu mencipta otobiografi—yang disebutnya sebagai “seri kenangan”—dengan kekuatan style, eksotisme, detail setting, dan kesadaran empati yang memancar dari dalamnya. Ini dapat kita telusuri dalam seluruh bangun seri kenangan terbarunya, La Grande Borne (PT Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Cakrawala Sastra, Tanpa Jender

S Prasetyo Utomo*
Kompas, 29 April 2007

Agak berlebihan ketika Sapardi Djoko Damono mengatakan, masa depan novel (sastra) Indonesia terletak di tangan perempuan pengarang kita. Memang benar, Sapardi Djoko Damono cukup beralasan mengemukakan pendapat ini karena beberapa fenomena. Pertama, bermunculan perempuan pengarang Indonesia yang sangat serius melakukan eksplorasi gaya bercerita. Kedua, berkembang industrialisasi kapitalistik yang sangat bergairah memasarkan teks-teks sastra karya perempuan pengarang kita.

Kupu-kupu dan Desing Peluru

S Prasetyo Utomo
http://suaramerdeka.com/

SEEKOR kupu-kupu kecokelatan yang sayap-sayapnya rapuh hinggap di dada Sarmo. Saat bentrokan dengan kerumunan warga di dekat makam keramat yang hendak digusur sebagai pabrik, kupu-kupu itu terbang rendah.

Terbang di atas kepala Sarmo. Dengan pakaian seragam dan pentungan di tangan, Sarmo menghindari bentrokan: saling dorong, pukul-memukul, melempar batu, dan menganiaya.

Harum Telaga Warna

S Prasetyo Utomo
http://suaramerdeka.com/

TAK diketahuinya, telah berapa lama Sukmo kabur dari kota tempat tinggalnya. Lelaki muda itu merasa sudah waktunya meninggalkan telaga warna dan goa persembunyiannya. Alangkah lega bila terbebas dari kesunyian hutan pinus, lembab gua, semerbak bunga-bunga liar, dan suara burung hantu di tengah malam berkabut. Ia sempat bimbang, bila kembali ke kota, masih setiakah istri dan anaknya di rumah mereka?